Lampost.co -- Ulun lampung memiliki beragam tradisi, ritual, dan upacara adat. Terkadang setiap tempat di wilayah Lampung memiliki tradisi yang sama namun berbeda istilah dan penyebutan, selain karena perbedaan dialek (Api dan Nyo) masyarakat Lampung terdapat banyak kebuayan yang terdiri dari paksi-paksi yang memiliki kepemimpinan sendiri-sendiri. Sehingga dengan kekayaan adat istiadat bahasa dan tradisi menjadikan lampung sebagai salah satu suku yang bineka, namun uniknya Lampung sejak dulu sepakat berhimpun dalam satu nama, yaitu suku adat Lampung Sai Bumi Ruwa Jurai.
Kekayaan warisan tradisi adat Lampung sendiri saat ini tidak lepas dari pengaruh akulturasi budaya terutama Islam, adanya pengaruh agama Islam yang kental tampak dari beberapa tradisi mulai dari tradisi perkawinan, kelahiran, hingga kematian. Tradisi ulun Lampung yang merupakan bentuk akulturasi dengan Islam tampak dari beberapa kegiatan dalam bulan Ramadan hingga memasuki bulan Syawal contohnya seperti tadarus, ziarah kubur, khataman, dan berbagi berkat di masjid pada malam menjelang 1 Syawal.
Dalam menyambut bulan Syawal atau Lebaran ada tradisi turun-temurun yang saat ini masih tetap berlangsung terutama di tiyuh-tiyuh tuha (kampung-kampung tua) di Lampung seperti Kurauan, Ngurau kebayan, dan canggot lebaran.

Canggot Lebaran

Canggot atau cangget adalah sebuah acara adat muda mudi khas Lampung, canggot merupakan sarana tempat bertemunya muda mudi atau muli-mekhanai Lampung ketika pada masa itu pertemuan langsung antara muda-mudi termasuk hal yang tabu, namun kemudian pertemuan antara muda-mudi ini difasilitasi dan disaksikan oleh para orang tua dan tetua adat dalam sebuah pertemuan resmi yang dinamakan dengan canggot.
Canggot dilaksanakan pada malam hari, dahulu canggot biasanya diadakan pada malam Bagha dalam istilah Lampung artinya bulan purnama sempurna atau terang bulan setelah acara panen raya namun untuk saat ini canggot dilaksanakan tidak hanya dilakukan pada malam purnama saja, tapi juga pada malam-malam acara adat seperti salah satu acara dalam adat pernikahan maupun malam-malam lain salah satunya adalah pelaksanaan canggot yang dilaksanakan pada bulan Syawal yaitu canggot lebaran.
Canggot Lebaran adalah canggot yang dilaksanakan pasca-Lebaran dalam suasana bulan Syawal setelah Idulfitri yang panitianya adalah bujang gadis (muli-mekhanai) yang merupakan gabungan beberapa tiyuh. Canggot Lebaran sendiri adalah momentum karena pada saat Lebaran-lah saat ini muli mekhanai yang jauh merantau keluar kampung baik untuk sekolah, kuliah, ataupun bekerja mereka berkumpul dalam suasana libur panjang Lebaran.
Pelaksanaan canggot Lebaran dilakukan pada malam hari di tiyuh-tiyuh (kampung-kampung) para pemudi dijemput oleh para pejemput yang membawa lampu yang berkeliling tiyuh untuk menjemput para pemudi di rumahnya masing-masing. Untuk saat ini, metode penjemputan sudah menyesuaikan dengan perkembangan zaman, bila dahulu pejemputan dilakukan dengan berjalan kaki, saat ini penjemputan dilakukan dengan menggunakan kendaraan. Acara canggot ini dilaksanakan oleh para penglaku (panitia adat) yang terdiri dari muda-mudi yang dikepalai oleh ketua pemuda (kepala mekhanai).
Sebelum ngehanyak (ngehayak itu artinya pihak pemuda duduk berhadapan dengan pemudi sebagai ajang saling kenal dan interaksi yang dibatasi oleh norma adat) biasanya kepala mekhanai (ketua pemuda) mengumumkan peraturan dengan menggunakan canang apa syarat-syarat yang seharusnya dilakukan mekhanai ketika ngehayak yaitu seperti harus menggunakan peci atau penutup kepala, tidak boleh bersalaman atau bersentuhan, sedangkan untuk muli-nya menggunakan sinjang/hinjang atau kain lepas/kain panjang.
Setelah proses perkenalan dan interaksi antara muli-mekhanai selesai acara selanjutnya adalah minjak nari (pemuda dipersilahkan untuk membangunkan salah seorang pemudi untuk menari bersamanya) menggunakan pakaian adat siger dan sarung tapis, sedangkan mekhanai menggunakan kain tapis atau sinjang, kopiah, dan keris atau badik. Pada saat tari inilah meranai (sang pemuda) bisa menunjuk salah seorang muli atau pemudi untuk menemaninya menari dengan tarian khas canggot (nigol). Sebelum minjak dari dilaksanakan biasanya pada sesi akhir tarian juga ada pisaan (pantun yang dibacakan oleh mekhanai) yang ditujukan untuk si gadis.
Setelah menjelang tengah malam, bahkan terkadang bisa sampai pagi acara canggot pun selesai dan para gadis kemudian diantarkan kembali ke rumah masing-masing, setiap petugas pengantar diberikan tanggung jawab penuh oleh kepala mekhanai untuk bisa mengantarkan kembali para gadis hingga sampai ke rumahnya masing-masing dengan baik, sehat, dan selamat. Walahualam bissawab.n

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR