BENTUK batu seperti obelisk di kelompok ketiga dipandang berbeda bentuknya yang alami, seperti ditemui di kelompok pertama dan di wilayah persebaran megalit di seluruh dunia. Batu-batu itu terbuat dari basal yang keras.

Diperkirakan bentuk batu yang alami dari pilar basal ini menjadi dasar obelisk. Oleh sebab itu, dalam hampir semua hal, terlibat campur tangan manusia untuk membuat dan menyusun menhir ke dalam bentuk itu. Bekas pengerjaan terlihat dengan sangat jelas. Dari jarak agak jauh, potongan yang sangat besar tersebut dapat diketahui seperti pada batu nomor 5 di Kebuntebu.



Bentuk yang halus ditemukan pada batu nomor 13 dan 66 yang berlokasi di tempat sama. Pilar batu yang tinggi dan sangat ramping ini begitu halus. Batu nomor 66 memiliki bentuk paling sempurna.

Sementara di Tangkit Kurupan tidak ditemukan batu yang dikerjakan dengan tangan manusia. Van der Hoop menemukan satu objek yang masih alami di antara menhir-menhir di Talangpadang. Batu tersebut terdapat pada gambar dengan nomor 195.

Kelompok menhir ke-4 memiliki kurang lebih dasar berbentuk persegi. Nomor 26 dan 63 di Kebuntebu dalam kelompok ini membentuk bentuk dasar yang paling sederhana. Di sini menimbulkan pertanyaan apakah pada menhir-menhir tersebut masih belum selesai yang dirobohkan oleh musuh orang Abung sebelum diselesaikan sehingga masih tergeletak sedemikian rupa hingga sekarang.

Pertanyaan itu agak mengganggu pada batu nomor 63. Batu nomor 64 merupakan pilar batu yang dikerjakan dengan sangat halus dan ini adalah salah satu menhir terindah di seluruh pegunungan yang terletak dan mencuat hanya sekitar satu meter dari tanah.

Kompleks I di Kebuntebu berisi objek-objek yang dikerjakan dengan halus yang tentunya sangat terkenal di wilayah permukiman suku Abung. Di dalam kompleks ini batu nomor 4 dan 8 menyajikan bentuk lebih sederhana. Sementara batu nomor 1 dan khususnya nomor 7 dikerjakan hingga sempurna. Pada batu terakhir terkesan seperti ingin membuat karya seni.

Batu itu tidak memiliki kekeliruan alami, seperti lekukan dalam yang dimiliki pada batu nomor 8 pada sisi depannya. Pada bagian bawah batu nomor 7 memiliki keunikan berupa dekorasi tonjolan melingkar. Dengan demikian, batu ini tidak dihilangkan hubungannya dengan menhir lainnya di kompleks tersebut. Batu itu terletak di barisan memanjang batu yang lainnya tanpa menunjukkan adanya perbedaan lain dalam pengerjaannya.

Batu ubin tidak memiliki perbedaan satu sama lain dalam hal bentuk dan pengerjaannya. Tidak dapat dipungkiri batu ubin adalah batu penutup untuk dolmen seperti pada peninggalan megalitik di seluruh dunia.

Batu-batu itu tentu saja tidak bergerak. Besar dan beratnya seimbang. Sayangnya tidak satu pun batu ubin di Kebuntebu yang masih memiliki penopangnya. Hal itu terjadi pada dolmen di Batu Kenjangan di Kenali dan batu di Antatai di Way Semaka Atas.

Keberadaan penduduk Rebang-Melayu dan Jawa yang menghuni dekat kompleks batu di Way Pitai tidak memungkinkan untuk menggali tanah pada ubin batu untuk mencari batu penopangnya. Megalit tersebut dianggap keramat untuk orang asing.

Menurut kepercayaan mereka, bagi yang menodai batu-batu tersebut, pasti akan menimbulkan bencana bagi penduduk. Namun, tidak diragukan batu ubin itu dulunya terletak di atas batu penopang yang ukurannya lebih kecil. 

 

 

 

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR