PADA tulisan kali ini saya ingin kembali mengulas dalam ingatan kita tentang kisah burung pipit, cicak, dan Nabi Ibrahim as. Kisah yang selalu diceritakan oleh guru mengaji dan orang tua di kala kecil. Kisah yang kini mulai terlupakan. Padahal, ada hikmah besar yang dapat diambil dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Izinkan saya sedikit membuka ingatan saya dan kembali mengutip dari berbagai sumber agar cerita itu dapat saya paparkan secara utuh. Kala itu, ketika kekasih Allah Azza Wajalla Nabi Ibrahim as dibakar oleh Namrud bin Kan'an yang kejam, burung pipit nan kecil berusaha melakukan sesuatu dan tidak tinggal diam.



Pembakaran disebabkan suatu ketika saat rakyat Babylon sedang berpesta. Ibrahim as menuju tempat penyembahan mereka dan menghancurkan berhala-berhala kaum Babylon. Kejadian ini membuat Raja Namrud marah besar dan memerintahkan agar Ibrahim ditangkap dan dibakar hidup-hidup. 

Alquran mengabadikan kisah pembakaran Nabi Allah, Ibrahim as, dalam QS Al-Anbiya ayat 69. Ada sebuah momen menarik ketika tubuh Ibrahim as mulai dikelilingi bara api, seperti disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim (Jilid 3/225). 

Bukan hanya api yang tidak mampu menghancurkan tubuh Sang Nabi, tetapi semua binatang melata pun berusaha memadamkan api yang membakar Ibrahim as, kecuali cicak. Kerja sama hewan-hewan yang membantu Nabi tersebut kemudian memunculkan percakapan yang sangat menarik antara burung pipit dan cicak. 

Burung pipit kecil merasa sangat bersedih karena sang Nabi Allah swt dibakar. Ia pun berusaha memadamkan api itu dengan cara mengangkut air di paruh kecilnya.

Ia bulak-balik ke sebuah danau untuk mengambil air dan menitikkannya ke atas api yang sedang melahap tubuh Ibrahim as. Cicak yang melihatnya tertawa mengejek, "Mana mungkin air dari paruhmu itu dapat memadamkan api. Itu hanya beberapa tetes saja," ejek sang cicak.

Burung pipit tidak peduli, apakah air yang sempat diangkutnya mampu memadamkan kobaran api atau tidak, ia terus saja meneteskan air dari paruhnya. "Aku tidak sanggup melihat Nabi Ibrahim kekasih Allah dibakar. Biarlah air ini terus menetes, karena Allah Maha Tahu pada siapa aku berpihak," burung pipit membela diri.

Sementara itu, cicak terus saja tertawa. Sambil menjulurkan lidahnya menghembuskan napas ke arah api agar api itu kian membesar. Memang tiupan cecak tidaklah sebanding kobaran api, tapi Allah swt menyaksikan di mana dia berpihak. 

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin kembali mengingatkan diri saya sendiri dan pembaca yang budiman. Ketika kita melihat adanya kezaliman, jangan pernah berpihak pada kezaliman. Ketika tangan tak mampu mencegah, lisan tak mampu tergerak, setidaknya hati tidak berpihak.  

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR