KALIANDA (Lampost.co) -- Tiar (37) melepas lelah di bawah pohon kelapa di pinggir sawah Dusun Sukamaju, Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan. Meski sedikit mengantuk, panen pada musim gadu tahun ini membuat rezeknya sebagai buruh pengangkut padi (ojek padi) pun paceklik.

"Akibat kemarau yang berkepanjangan, hasil panen padi pada anjlok. Pendapatan kami sebagai buruh manol (ojek padi) pun ikut merosot," kata Tiar saat sedang melepas lelah dari teriknya sinar matahari, Rabu 18 September 2019.



Biasanya lahan seluas seperempat hektare menghasilkan 35 karung gabah kering panen. Namun pada musim gadu tahun 2019 ini, hanya mendapatkan 11 karung dengan upah angkut Rp7000 per karung dari sawah ke rumah pemilik gabah sejauh kurang lebih 700 meter.

"Panen rendeng lalu, lahan seperempat hektare dapat borongan manol sampai Rp245 ribu. Lah, sekarang hanya Rp77 ribu. Itu pun dibagi dua orang," kata Tiar.

Sejak Juli 2019 lalu, kekeringan mulai melanda Ketapang. Air susah dicari dan debitnya sangat sedikit. Namun, petani tetap menanam padi dengan harapan masih akan turun hujan satu atau dua kali. Sayang, harapan itu tidak terwujud. Selama Agustus hingga September 2019 sama sekali tidak turun. Akibatnya produksi padi pun menurun, bahkan tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen.

"Panen musim rendeng lalu, selama sepekan dapat borongan manol dengan penghasilan bersih mencapai Rp1,5 juta. Sekarang hanya dapat Rp50ribu," ucapnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR