KOTABUMI (Lampost.co)--- Meski sempat kabur dan bersembumyi selama delapan tahun, Herlijon, (26), warga Desa Ulakrengas, Abung Tinggi,  Lampung Utara ditangkap unit reskrim Polsek Bukitkemuning, di kediamannya, Kamis (18/7),  sekitar pukul 20.00.
Herlijon, dalam kesehariannya berprofesi sebagai petani kopi ini, ditangkap Unit Reskrim Polsek Bukitkemuning dengan dipimpin langsung oleh Kapolsek Kompol  Eri Hafry.
"Tersangka merupakan salah satu pelaku curas yakni pembegalan yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polres Lampura," ujarnya.
Dia menjelaskan aksi curas atau pembegalan itu melibatkan kawanan Samsul Bahri, (28), Ari Nugroho, (26), dan Wahyu Adi Saputra, (29), yang telah tertangkap lebih dahulu dan saat ini telah menjalani hukuman.
"Kawanan ini terbilang sadis saat beraksi terhadap calon korbannya. Sebab, mereka tidak segan-segan melukai korbannya dengan menggunakan senjata tajam jika tidak dipenuhi keinginannya," terang  Kapolsek.
Sementara tersangka bersama rekannya melakukan aksi  pembegalan terhasap  Riko Andrian Saputra, (24), terjadi saat korban melintas di jalan umum Desa Ulakrengas,  Abung Tinggi, Lampura, Sabtu,  11 Juni 2011 lalu.
“Modus operandi yang digunakan kawanan begal ini dengan cara merintangkan kayu di tengah jalan,” kata Kapolsek.
Melihat ada kayu melintang,  korban lantas menghentikan motor yang dikendarainya. “Pada saat  itulah, dengan tiba-tiba kawanan begal tersebut  langsung memukuli korban berkali-kali hingga korban ketakutan dan tidak berdaya, lalu para tersangka langsung merampas sepeda motornya,” katanya.
Barang bukti yang diamankan dan telah dilimpahkan dalam perkara terdahulu, yakni satu unit sepeda motor Yamaha Vixion warna abu-abu, satu unit sepeda motor RX-KING warna hitam, satu unit sepeda motor Honda NF 100, satu unit HP merk XCOm type CX3 warna putih, dan dua batang kayu kopi kering, sebilah sajam jenis pisau garpu yang diduga merupakan hasil jarahan.
"Tersangka rencananya akan dikenakan Pasal 365 KUHPidana dengan ancaman hukuman lima tahun penjara," terangnya kembali. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR