LAMPUNG POST | lampost.co logo
LAMPUNG POST | Bunga Kebangsaan
Ilustrasi. 3.bp.blogspot.com

Bunga Kebangsaan

BANYAK cara yang dilakukan orang untuk mengekspresikan ungkapan simpati, duka, dan suka cita. Ucapan itu berbentuk karangan bunga dan kartu adalah sesuatu yang paling bermakna bagi seorang yang menerimanya. Penduduk Mesir adalah manusia pertama pada 2500 tahun sebelum Masehi menyemarakkan bunga sebagai ucapan simpati.
Di dataran Asia, seperti Jepang dan Tiongkok, ikut menyemarakkan ucapan berbentuk bunga. Bahkan kedua negara itu menjadikan bunga sebuah seni rangkaian terindah. Karangan bunga juga menjadi ritual tradisional di kalangan umat beragama di Negeri Tirai Bambu tersebut. Bahkan di Eropa juga, pada abad ke-18, menjadikan bunga bagian dari gaya hidup.
Sebagian besar penduduk belahan dunia yang beradab dan bermartabat menjadikan bunga sebagai media ideal untuk mengomunikasikan hasrat, ungkapan perasaan, dan keinginan. Bahasa yang terungkap dari rangkaian sebuah bunga berbeda dalam banyak kebudayaan.  Di Asia dan Timur Tengah, bunga menjadi simbolisme sebuah kehidupan.
Bunga teratai, contohnya, dianggap suci atau berhubungan dengan spiritual. Itu tecermin dalam sebuah karya seni di Tiongkok, yang melambangkan keabadian. Seikat bunga dari wanita mengungkapkan perasaan kesabaran pada pendampingnya. Bahkan Nabi Muhammad saw memanggil istrinya, Aisyah, dengan sebutan humairah—pipi yang kemerah-merahan. Bunga kasih sayang untuk sang pendamping hidupnya.
Di negeri ini, awalnya karangan bunga untuk duka cita. Lalu untuk ucapan pernikahan, ulang tahun, dan pelantikan. Terkini, warga ibu kota Jakarta menyampaikan karangan bunga ucapan terima kasih kepada Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang kalah dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Ratusan papan bunga dari berbagai elemen masyarakat menghiasi halaman Balai Kota.
Sepekan dari itu, fenomena pengiriman karangan bunga terjadi di Kantor Kepresidenan, lalu di sepanjang trotoar Jalan Mabes Polri, dan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pengirim papan karangan bunga mengucapkan terima kasih, serta dukungan anak bangsa terhadap Polri dan TNI yang telah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karangan bunga terlihat juga memenuhi halaman Mapolda Lampung, Jumat (5/4/2017).
Di antara warna-warni bunga papan yang menarik perhatian mata itu, tersirat pesan-pesan kebangsaan. Mulai dari dukungan kepada Polri untuk menjaga keutuhan Indonesia, hingga penolakan terhadap segala bentuk radikalisme dan tindakan intoleransi.  "Rakyat Indonesia mendukung TNI dan Polri melawan intoleransi," bunyi pesan di salah satu karangan bunga yang berbaris rapi di Mabes Polri. Pengirimnya adalah Silent Majority. 

***

Pesan-pesan itu menjawab seruan Kapolri Jenderal Tito Karnavian beberapa waktu lalu. Mayoritas anak bangsa cenderung memilih diam dalam situasi terkini merebaknya tindakan radikal dan intoleransi mengancam keutuhan bangsa Pancasila ini.  “Bersuaralah. Tidak perlu berbuat militan. Paling tidak memberikan dukungan kepada pemerintah, aparat penegak hukum. Itu sudah cukup," kata  Jenderal Tito, pada awal April lalu.
Pesan yang disampaikan rata-rata berbunyi senada. Antiintoleransi, menolak radikalisme, serta seruan untuk menjaga keutuhan NKRI. Hal serupa pun terjadi di Polda Metro Jaya, Polda Lampung, Polda Sumsel, hingga ke polres dan polsek. Pemandangan ini pun menarik perhatian. Kapolri menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pengirim bunga.
Bagi Polri, kiriman bunga ini memberikan motivasi dukungan menindak tegas kelompok-kelompok intoleran yang dapat mengganggu keutuhan NKRI.  "Dukungan ini membuat kami lebih komitmen, motivasi kami lebih tinggi dalam rangka melakukan tindakan," kata putra kelahiran Palembang ini.
Pesan-pesan itu sebagai wujud kepedulian anak bangsa yang cinta dengan keutuhan negara terhadap isu-isu terkini. Alangkah indahnya negeri ini ketika bangsa dihimpit oleh kepentingan kelompok intoleransi, sebagian rakyat memahami perlawanan tanpa kekerasan. Anak-anak bangsa itu bersama-sama melawan gerakan kekerasan dengan cara kelembutan, menebar karangan bunga warna-warni dengan bahasa tegas dan lugas.
Gerakan melawan radikalisme tidak cukup dengan karangan bunga. Lebih dari itu, harus dimulai di lingkungan keluarga dan sekolah.  Rakyat mudah sekali dihasut untuk merongrong  keutuhan bangsa.  Ada sebuah aksioma yang patut direnungkan oleh orang tua, rusaknya moral dan tumpulnya etika sosial disebabkan makin suburnya praktik anomali di sekolah.
Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei lalu, para pendidik baik guru maupun dosen berkomitmen bahwa sekolah dan kampus menjadi kawah candradimuka persemaian nilai kejujuran, kesederhanaan, dan sikap egaliter. Dari tempat itulah, siswa dan mahasiswa belajar tentang demokrasi, kejujuran, dan kebebasan berpendapat. Ruang kelas dan kuliah menjadi tempat toleran terhadap realitas keanekaragaman di masyarakat.
Menjadi masalah yang serius ketika anak bangsa menolak sikap toleransi. Jika sikap keberagaman dan antiradikalisme tidak ditularkan ke generasi muda, mau jadi apa nasib masa depan negeri ini? Banyak orang termasuk anak, remaja, pemuda, bahkan orang tua sudah rentan tersulut informasi kebencian yang diviral media sosial. Menghujat, menebar fitnah, bangga dengan kekuasaan, dan kebohongan sudah menjadi hal yang biasa. Tunggulah, akan datangnya kehancuran.  ***

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv