RAMADAN menjadi bulan istimewa, bagaimana tidak semua amal jadi istimewa di syahrul syiam itu. Ganjaran dari setiap amal ditambahkan karena istimewanya bulan ini.
"Karena istimewanya, jemaah di masjid-masjid iramanya sangat terlihat. Sangat ramai di awal Ramadan dan makin mengurang di akhirnya," begitu kata Kacung saat duduk santai di teras belakang usai pulang salat isya dan tarawih berjemaah di masjid dekat rumah majikannya.
"Eh... abang. Bulan istimewa kok masih aja ngedumel. Enggak takut keistimewaannya ilang opo," sahabatnya Inem menimpali begitu melihat Kacung menggerutu di lokasi itu.
"Gimana enggak geleng-geleng kepala saya, Nem. Saf di masigit no nambah maju khiya. Artinya jemaahnya terus berkurang," kata Kacung. "Apa keistimewaan itu sudah pindah ke pasar dan mal di akhir Ramadan?"
Inem pun dengan santainya masuk, mengambil kolak sisa berbuka sorenya. "Alah ngono to, yo alhamdulillah isik ono jemaah, Bang. Coba kalau bukan Ramadan, tidak ada jemaah ramai seperti bulan ini," timpal Inem dari dalam dapur.
Sembari membawa dua mangkuk kolak dari dapur, Inem terus menanggapi Kacung. "Coba liat nanti, Bang, waktu salat id, tetapi paling istimewa. Jemaah masjid sampai tumpah di luar. Ini kolaknya, Bang," kata Inem.
Kacung pun semangat menimpali Inem, sambil menyendokkan kolaknya ke mulut. "Nah... kik sembahyang id, tantu ya ramik, Nem. Orang tidak tidur malam pun, dipakakan salat id," kata Kacung.
"Tapi ya itu kok jumlah jemaah salat di masjid, tidak berkaitan dengan istimewanya Ramadan. Justru di malam-malam pada 10 hari terakhir, jemaah masjid beralih ke mal dan pasar. Aduh Nem."
"Eit...eit... jangan begitu, Bang, justru abang sendiri nanti hilang pahala salat tarawihnya. Baru saja pulang tarawih sudah meledak-ledakkan emosinya," kata Inem. "Ben ke wae, wong sing ngono. Asal awak dewe ora."
Kacung langsung duduk di kursi panjang di teras itu dan bergumam. "Iya, Nem, istimewanya Ramadan ini biar orang beriman saja yang merasakan. Kewajiban puasa di bulan Ramadan pun hanya untuk orang beriman kok," kata Kacung. "Kan jelas perintahnya untuk orang beriman, tujuannya agar yang menjalankannya bertakwa."
Inem pun langsung senyum sembari meninggalkan tempat itu, dia berkata. "Nah, Bang... jadi orang takwa jika istikamah menjalankan ibadah dan perintah Allah, termasuk tidak menggunjing atau mempersoalkan yang tidak disukai saudara seimannya."
Inem melanjutkan, "Termasuk ya itu tadi, jangan keburu-buru komentar terkait banyak jemaah salat tarawih di masjid. Siap atau merek tarawih di rumah," kata Inem.
"Astagfirullah... benar, Nem, waduh harus minta ampun kita. Biar abang mendapat keistimewaan Ramadan, kamu ngeliat abang juga makin istimewa," goda Kacung. Alhamdulillah... pukul 16.39, satu setengah jam lagi buka puasa.

 

EDITOR

Ricky Marly

TAGS


KOMENTAR