BANYAK alasan seseorang untuk mengaku bahwa anak dari seorang raja, mulai dari ketanaran hingga kekayaan. Namun di meja pengadilan, semua warga dianggap sama.

Iya kidah, pak khaja mak dacok aga mangkir jaka pengadil (Iyalah, walaupun raja tidak bisa menghindari hukum).



Seperti kisah mantan Raja Belgia yang akhirnya mengalah dan menyetujui tes DNA. Tujuannya untuk mendapatkan kebenaran atas klaim seorang wanita bahwa dia anak kandungnya setelah bertahun-tahun sengketa.

Dilansir dari The Sun, wanita itu Delphine Boel (51) telah berusaha membuktikan Raja Albert II sebagai ayah kandungnya selama bertahun-tahun dan kisahnya sering menjadi berita utama. Albert tidak pernah terbuka menyangkal menjadi ayahnya, tetapi menolak memberikan DNA.

Awas de niku, dang bangkilan. Kanah salah muneh anggopanmu, wat-wat gawoh (Awaslah, jangan ngotot. Nanti salah dan tidak terbukti, ada-ada saja). 

Sebuah pernyataan dari pengacara Albert, yang dikirim ke media Belgia, menyebutkan setelah mantan raja itu mencatat keputusan pengadilan dua pekan lalu, yang memberlakukan denda harian, ia akan tunduk pada tes "karena menghormati otoritas kehakiman".

 Disitir dari The Sun, Jumat, 31 Mei 2019, jelas bahwa langkah itu tidak menyiratkan pengakuan bersalah.

Pengacara Boel, Yves-Henri Leleu, berkata kliennya "bereaksi sangat positif, karena dengan tes DNA, bukti biologis sekarang ada di sana."

Pengacara mantan raja itu mengatakan hasil DNA harus disegel sampai nanti ditunjukkan dalam kasus hukum.

Desas-desus tentang perselingkuhan Albert dengan ibu Boel, Sybille de Selys Longchamps (77), istri aristokrat dari seorang pengusaha kaya, telah beredar selama bertahun-tahun.

Tetapi kabar bahwa raja mungkin memiliki seorang anak bersamanya baru terbuka ketika sebuah biografi istri Albert, Ratu Paola, diterbitkan pada 1999. 

 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR