PADA malam dimanjau, Funke duduk-duduk dengan beberapa penyimbang yang kemudian bercerita tentang sukunya. Ada beberapa adat yang diceritakan.

Belum begitu lama harus dikurbankan 44 ekor kerbau untuk pesta papadon. Namun, pesta harus digagalkan karena penyelenggara tidak mampu menyediakan kerbau tersebut.



Beberapa saat kemudian, ketika hal itu dibicarakan lagi dengan seorang penyimbang, ia menjelaskan adat tersebut dengan sudah sangat lama. Titik permasalahannya bukan karena kerbau, melainkan karena budak. Lalu, saat ditanyakan pada penyimbang lainnya, versi cerita itu dibantah dengan sangat keras.

Masih pada abad yang lalu, diceritakan penduduk pesisir orang Abung bahwa pada zaman dahulu mereka bukan hanya pemburu kepala, tetapi juga kanibal. Baik dari cerita-cerita lama atau juga dari perjalanan di seluruh Lampung, Funke berusaha keras menemukan bukti nyata untuk keterangan itu. Hasilnya negatif. Namun, dapat disimpulkan kemungkinan penyebab atas rumor tersebut dalam cerita yang sangat jelas.

Di bagian selanjutnya, dijelaskan cerita mengenai suku Abung setelah sepeninggalnya Minak Paduka Begeduh. Di sini, hanya dipilih satu episode yang diceritakan oleh Canne (dalam bukunya Bijdrage) pada pertengahan abad ke-19 tentang detail orang Abung.

Pada generasi ke-4 setelah Minak Paduka Begeduh, terjadi konflik supremasi antara kedua suku Abung Nunyai dan Anek Tuho. Dalam legenda diceritakan bahwa perwakilan kedua suku tersebut berselisih, Minak Paduka (yang lebih muda) sebagai juru bicara Nunyai dan Radja Pandjang Djungur untuk Anek Tuho. Pandjang Djungur terlihat mendesak Minak Paduka.

Suku Nunyai berusaha mencari sekutu pada Maulana Hasanudin, penguasa batu Bantam di Jawa Barat dan penguasa wilayah pesisir Teluk Lampung yang ditundukkan di bawah nama Radja Balau. Suku di daerah pesisir di wilayah selatan awalnya menolak untuk diikutcampurkan dalam konflik antara suku Abung tersebut.

Maka diceritakan bahwa Minak Paduka melakukan tipu daya. Pada suatu jamuan, ia menyembelih seorang budak tua dan seekor kerbau. Daging kerbaunya kemudian dibawa ke banyak orang dan dikonsumsi. Penduduk Pesisir dari Balau dikagetkan dan ditakutkan dengan orang Abung yang memangsa daging manusia ini bahwa mereka mematuhi permintaan Minak Paduka.

Hubungan penguasa pertama Bantam dengan kejadian ini bagi kami hanya merupakan sudut pandang kronologi. Tipuan ini dengan budak yang dimakan dapat menjadi peristiwa untuk rumor yang selalu kembali menyebar bahwa orang Abung dulunya mengonsumsi daging manusia. Tentu saja, ini adalah satu-satunya bukti untuk adat tersebut. Tesis kanibalisme untuk pengamatan ilmiah ini telah tuntas.

Semua peristiwa mengenai perburuan kepala dan tradisi yang berkaitan terjadi pada masa setelah sepeninggalnya Minak Paduka Begeduh yaitu pada masa ketika orang Abung telah masuk ke suku yang sekarang dan menghuni dataran timur. Masa tersebut terjadi pada 1450 Masehi.

Dibicarakan kompleks batu besar di kebun tebu dan Tangkit Kurupan serta penemuan megalit dari daerah Ranau pada masa megalitik, ketika orang Abung masih tinggal di Sekala Bkhak, di pegunungan barat. Dalam hal ini megalit dari wilayah Kenali-Batu Bkhak, tetangga Danau Ranau memiliki arti yang sangat penting.

Sementara batu besar bernama Batu Begarak yang bentuknya menunjukkan bahwa batu itu dulunya mungkin berfungsi sebagai batu persembahan. Kegunaan kedua megalit dari Kenali menurut tradisi penduduknya menjadi lebih jelas.

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR