CERITA yang tersebar mengatakan jika tidak tepat waktu mencapai Abung lama untuk meletakkan kepala yang diperlukan untuk pesta Papadon, beberapa budak dibunuh. Pada dasarnya, empat budak yang kepalanya digunakan pada perayaan sebagai penyangga atau kaki. Di atas bangku yang dibuat untuk singgasana yang hingga kini digambarkan oleh Papadon menjadi tempat perayaan.

Di sini hubungan erat keberadaan Papadon dengan adat berburu kepala menjadi jelas. Cerita kemunculan keberadaan Papadon begitu penting untuk seluruh struktur kemasyarakatan bangsa Abung hingga kini.



Selanjutnya, Cornets de Groot menginformasikan mengenai kebiasaan lama orang Abung yang dilakukan saat membangun rumah baru. Untuk itu, beberapa budak dibunuh yang kepalanya dikuburkan di bawah tiang rumah. Demikian orang Abung menginginkan agar energi kehidupan dari yang mati masuk ke tiang melalui cara gaib. Ketahanan rumah dan juga keamanan penghuninya bergantung pada penyangganya.

Adat lain yang sangat tua diceritakan oleh Aeckerlin. Adat ini disebut Titi Djalma. Titi adalah jalan kecil. Namun, kata djalma belum bisa diartikan jelas.

Prosesnya sendiri digambarkan sebagai berikut. Pada zaman dahulu diadakan pesta besar setelah kemenangan perang, dengan dilakukan tarian perang bernama tari tigel. Tarian ini dilakukan di rumah Sesat.

Di situ, para tawanan atau jika tidak ada tawanan, budak berbaring memanjang dengan punggung menghadap atas di atas panggung rumah perayaan. Saat tari tigel dilakukan, semua anggota suku yang termasuk marga Papadon menari di tubuh tawanan atau budak membawa senjata lengkap dan memakai hiasan pesta.

Tidak diceritakan apakah tawanan atau budak tersebut dibunuh. Oleh karena itu, hal ini juga tidak diterima. Meskipun demikian, sisa pembunuhan kurban mungkin masih dapat dilihat.

Du Bois menyebut Titi Kaki Djelma suatu adat serupa yang ia sendiri amati pada pesta pernikahan. Pengantin perempuannya dibawa menggunakan rato, kendaraan yang diperlukan oleh adat, dari rumah orang tuanya menuju tempat perayaan suku tersebut. Sayangnya dia tidak memberikan keterangan jelas lokasi pengamatannya.

Namun, penggunaan rato hanya terjadi pada salah satu suku orang Abung. Berdasarkan cerita anak perempuannya harus dengan laki-laki terpandang. Ayahnya setidaknya memiliki gelar pangeran, jika tidak anak perempuannya tidak diperbolehkan mempergunakan rato tersebut.

Dalam perjalanan menuju rumah Sesat, pengantin perempuan yang duduk di dalam rato menopangkan kakinya di atas tubuh seorang pemuda yang berbaring di lantai di depannya. Du Bois menerjemahkan adat ini dengan, "Sesorang yang digunakan sebagai tumpuan kaki".

Dia meyakini adat yang dilakukan saat pengamatannya tahun 1829 hanya terjadi di wilayah terpencil, tetapi lazim terjadi. Objeknya adalah para budak.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR