SOLO (Lampost.co)-- Watik menenteng rantang di tangan kanannya. Senyum merekah di bibir warga Palur, Kabupaten Karanganyar tersebut. "Meski harus jauh-jauh ke Solo, saya tetap datang demi bubur samin ini," ungkap Watik saat ditemui di Masjid Darussalam, Jayengan, Serengan, Solo, Kamis (9/5/2019). 
  
Sejak hampir 40 tahun yang lalu, Masjid Darussalam memiliki tradisi membagikan bubur samin khas Banjarmasin. Ribuan porsi bubur dibagikan secara gratis ke masyarakat. Rasanya yang khas membuat warga merindukan sajian yang hanya dibagi saat Ramadan ini. "Jadi kalau bulan puasa ya bubur samin ini yang ditunggu-tunggu," kata Watik. 
 
Semangkok bubur samin menyimpan sejarah panjang perjalanan perantau asal Banjar ke Kota Solo, Jawa Tengah.  Ketua Takmir Masjid Darussalam, Rosyidi Muhdor mengemukakan perantau dari Banjar mulai berdatangan sekitar tahun 1900. 
  
Mereka banyak menetap di sekitar Kampung Jayengan, Serengan, Solo. Warga Banjar pun bermukim dan mendirikan sebuah tempat beribadah atau langgar.  Pada tahun 1960-an, langgar dibangun menjadi sebuah masjid bernama Masjid Darussalam. "Mulai sekitar tahun 1980, masjid ini mulai membagikan hidangan buka puasa khas Banjar, bubur samin," tutur Rosyidi.  
  
Bubur ini, kata dia, memiliki cita rasa yang khas dan rasa rempah yang kuat. Rasa unik ini berasal dari aneka rempah seperti kapulaga arab, adas, kayu manis, pala, ketumbar, jahe, kunyit, lengkuas dan kemiri dan minyak samin. 
"Kemudian ditambah dengan sumsum sapi sehingga rasanya gurih," ujar dia. 
  
Setiap harinya, 1.100 porsi bubur dari 50 kilogram beras dibagikan. Bubur ini pun harus dimasak kurang lebih enam jam dengan belasan tenaga pemasak.  "Sebanyak 900 porsi dibagi untuk warga. Sisanya digunakan untuk berbuka jamaah Masjid Darussalam," papar Rosyidi. 
  
Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo mengatakan, kuliner Ramadan di Kota Bengawan ini menjadi simbol persatuan. Sebab, dalam sejarahnya bubur samin menjadi simbol penyatuan etnis.  "Warga keturunan Banjar yang kemudian tinggal dan menyatu dengan warga Solo yang beretnis Jawa," kata dia. 
 
Achmad Purnomo berharap, masyarakat tak hanya menjadikan bubur samin sebagai santapan buka di saat Ramadan. "Sejarahnya perlu diketahui, agar warga pun bisa lebih memahami arti persatuan," tutup Achmad.  
  
 

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR