BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Menyalurkan bakat atau hobi jika digeluti dengan serius pasti akan membuahkan hasil yang manis. Seperti para Sahabat Muda penghobi menulis asal SMA Arraihan Bandar Lampung, yang belum lama ini berhasil menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Bianglala.

Para penulis buku tersebut adalah para siswa yang aktif di ekstrakurikuler jurnalistik.



Ketua Ekskul Jurnalistik SMA Arraihan, Syarifah Ratu Fasya menyebut aktif di bidang jurnalistik dan tulis-menulis bukanlah hal yang membosankan. Banyak hal yang bisa dieksplorasi dari bidang tersebut, seperti belajar menjadi news anchor, menulis puisi, hingga melakukan akting dalam sebuah kabaret.

Ratu, yang kini duduk di kelas XI IPS, mengaku sudah tertarik menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan, dari keseriusannya itu, dia sudah banyak menghasilkan karya hingga pernah menerbitkan kumpulan cerpennya berjudul Euforia.

"Cerpen dan puisi sudah ada sekitar 50 karya. Tujuh judul yang sudah benar-benar selesai," ujarnya saat talkshow di Radio SAI 100FM Lampung Post, beberapa hari lalu. Bahkan, penggemar penulis Tere Liya itu kerap menjadi juara dalam berbagai lomba penulisan.

Ratu menyarankan untuk membuat sebuah tulisan, seperti cerpen, penulis dapat menggali ide penulisan dari hal-hal sederhana yang dialami. "Supaya lebih mudah, kalau aku pribadi lebih suka menulis akhir kisahnya dulu, baru dirangkai ke depan. Untuk ide sebenarnya bisa datang dari mana saja," kata dia.

Sahabat Muda lain yang juga sudah berhasil membuat karya kumpulan cerpen, Syekira Kamilah, mengaku lebih suka menulis cerita dari realitas sosial yang ditemuinya. Syekira adalah penulis cerpen berjudul Allegias, yang telah berhasil memenangkan perlombaan menulis tingkat Provinsi Lampung, belum lama ini. "Kiatnya coba ambil tema yang mudah, misalnya tentang kehidupan pribadi atau lingkungan sosial di sekitar kita," ujar siswa kelas XI jurusan IPA itu.

Berani Memulai

Lidya Safira, mantan reporter cilik Lampung Post yang juga aktif di ekskul jurnalistik, menyebut inspirasi menulis sebenarnya bisa datang dari mana saja, seperti dari teman-teman atau orang terdekat yang kisahnya dijadikan tulisan.

Lidya mengaku lebih suka mengambil tokoh orang, misalnya tema lingkungan, sehingga ketika orang lain membaca tulisannya akan merasa antusias. "Cerita kadang mengambil dari teman sekolah, tapi bukan tokoh yang sebenarnya. Menulis menurut aku tidak terlalu susah, tapi juga enggak mudah, kuncinya berani untuk memulai," ujarnya.

Menurut Lidya, agar seseorang lebih mudah menulis sebaiknya rajin-rajin membaca karya orang lain, baik komik maupun novel.

Pembina OSIS SMA Arraihan, Faruqi Ageng menambahkan selama ini pihak sekolah sangat mengakomodasi bakat-bakat menulis siswanya di ekskul jurnalistik. Saat ada siswa yang ingin membuat buku, sekolah pun membantu prosesnya.

"Kami berusaha terus memotivasi mereka, jangan sampai mereka memusingkan biaya cetak, yang penting menulis itu semangat, yakinkan pasti ada jalan," kata dia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR