SALAH satu penyebab maraknya kriminalitas adalah kecepatan tindak kejahatan melebihi kemampuan aparat keamanan di bidang pencegahan dan pemberantasan. Kualitas dan kuantitas tindak pidana setiap saat terus meningkat.
Seharusnya situasi ini diimbangi dengan kemampuan perangkat dan aparat hukum yang memadai. Namun, sering faktanya tidaklah seindah itu. Contoh terakhir adalah pengusutan kasus pupuk palsu yang merebak di Tulangbawang.
Jajaran Reskrim Polres Tulangbawang pada Minggu (18/2) membekuk empat pelaku sindikat pengedar pupuk palsu serta mengamankan 1 ton lebih barang bukti pupuk palsu. Keempat pelaku tersebut merupakan warga asal Bojonegoro, Jawa Timur.
Mereka tinggal di Lampung dengan mengontrak di SB 16 Desa Siswobangun, Kecamatan Seputihbanyak, Lampung Tengah. Para pelaku ditangkap di Jalan Lintas Rawajitu, Penawartama, saat hendak mengedarkan pupuk palsu ke sejumlah pengecer dan petani di Kecamatan Rawajitu Timur dan Rawapitu.
Berdasarkan pemeriksaan petugas, para pelaku telah beraksi setahun terakhir dan lebih dari 40 ton pupuk palsu diedarkan di Tulangbawang. Pupuk palsu itu dipasok CV Kawan Tani Sejati di Jalan Sunan Ampel, Wadeng Sedayung, Gresik, Jawa Timur.
Setelah penangkapan pelaku, proses selanjutnya adalah uji laboratorium barang bukti berupa pupuk palsu di Bandar Lampung. Uji laboratorium diperlukan untuk memastikan kepalsuan dan kadar yang terkandung dalam pupuk tersebut. Setelah ada hasil uji laboratorium, barulah dilakukan tindakan lebih lanjut.
Namun, sampai sepekan setelah penangkapan, hasil uji laboratorium belum juga keluar. Kehati-hatian memang diperlukan dalam proses penyelidikan dan penyidikan agar tidak mudah dipatahkan di persidangan kelak, tetapi hendaknya prinsip kehati-hatian juga tetap tidak mengabaikan unsur kecepatan untuk memperoleh kepastian.
Publik tentu berharap kasus pupuk palsu ini segera terungkap hingga ke akar-akarnya. Tidak hanya si penjual, tetapi juga sindikat di belakangnya, mulai dari pemilik pabrik dan kemungkinan jika ada beking tertentu. Jika penuntasan kasus ini dibiarkan berlarut-larut atau bahkan macet, dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk masuknya sindikat pupuk palsu lain di provinsi ini.
Petani kita selama ini sering dilanda masalah. Serangan hama dan penyakit tanaman, banjir, gagal panen, harga anjlok, dan kelangkaan saprodi. Sekiranya jangan lagi masalah tersebut ditambah dengan beredarnya pupuk palsu. Jika ingin melindungi petani, sindikat pupuk palsu di Lampung harus dibongkar habis.

 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR