SETELAH empat hari diguyur hujan lebat, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung, mengalami longsor pada Selasa (9/7/2019), sekitar pukul 15.00. Tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut, tetapi material longsoran sampah menimbun sejumlah alat berat. Material bangunan yang akan dipakai untuk membuat fondasi pengaman TPA juga tertimbun. 

Sehari berikutnya, petugas TPA dibantu Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Lingkungan Hidup mengerahkan tiga ekskavator dan 10 truk untuk membersihkan lokasi longsor. Pembersihan diperkirakan membutuhkan waktu hingga 45 hari.  Longsor akibat guyuran hujan deras itu terjadi di tengah kemarau. Memang, akhir-akhir ini kondisi cuaca di Bandar Lampung sulit diprediksi. Jika dirunut sejak awal, longsor tersebut jelas tidak datang tiba-tiba. Selama ini, TPA Bakung memang menyimpan sejumlah persoalan serius. Luas areal TPA yang hanya sekitar 14 hektare dipakai untuk menampung sampah seluruh penduduk kota.  



Dalam hitung-hitungan Dinas Lingkungan Hidup Bandar Lampung, setiap hari penduduk di Kota Tapis Berseri ini memproduksi sekitar 850 ton sampah. Padahal kapasitas TPA Bakung hanya mampu menampung 230 ton sampah per hari, kemudian yang terjadi adalah TPA Bakung mengalami overload. Karena luas lahan yang terbatas, akhirnya tumpukan sampah kian hari menggunung. Dalam situasi seperti itulah, longsor ibarat tinggal menunggu waktu. 

Longsor di lokasi TPA bukan hanya terjadi di Bandar Lampung. Bencana longsor sampah paling mematikan terjadi di TPA Leuwigajah di Desa Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. Sebanyak 143 orang tewas terkubur dan 86 rumah ikut lenyap ditelan sampah. Ribuan ton kubik sampah juga mengubur 8,5 hektare kebun dan lahan pertanian. Untuk mengenang tragedi maut tersebut, setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. 

Hampir sebagian besar bencana longsor TPA akibat pengelolaan sampah yang menggunakan sistem konvensional. Sampah organik dan anorganik dibuang secara bersamaan, kemudian ditimbun tanpa proses pengolahan alias dibiarkan terurai sendiri oleh alam. Ke depan, perlu dihidupkan kembali sosialisasi pemisahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik bisa diolah kembali sehingga dapat menekan volume sampah yang ditimbun di TPA.  

Di sejumlah kota pemilahan jenis sampah dapat menekan sampai 30% volume sampah yang masuk TPA. Upaya tersebut sangat cocok diterapkan di TPA Bakung, mengingat luas areal TPA yang terbatas.  Penambahan luas areal TPA juga tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sudah sangat sering sejumlah elemen masyarakat maupun DPRD Bandar Lampung mengusulkan penambahan luas areal TPA Bakung. Masyarakat sekitar TPA juga setuju melepas lahan dengan nominal harga sesuai dengan nilai jual objek pajak. Namun, semua terbentur dengan ketersediaan anggaran daerah.  

Tampaknya, para pengambil keputusan belum sepenuhnya sensitif terhadap pengelolaan sampah. Padahal jika tidak segera diambil kebijakan yang tepat, suatu saat timbunan sampah akan menjadi bom waktu yang menimbulkan bencana. 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR