JAKARTA (Lampost.co)-- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan kondisi  El Nino lemah diprediksi bertahan hingga Juni - Juli 2019 dan berpeluang melemah hanya 50 persen setelah pertengahan tahun.

"El Nino kategori lemah berlangsung di Samudera Pasifik ekuator, Samudera Hindia dalam kondisi Netral. Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga Juni-Juli mendatang," kata Deputi Klimatologi Herizal di Jakarta, Rabu (6/3/2019).



Herizal menjelaskan, pada pertengahan Februari, syarat dan kondisi lautan dan atmosfer yang diperlukan untuk menyatakan kejadian El Nino telah terpenuhi.

El Nino kategori lemah ditandai oleh kondisi lebih panasnya suhu muka laut di wilayah Pasifik ekuator bagian tengah berada pada kisaran 0,5 - 1derajat Celcius di atas normalnya sejak Oktober 2018 diikuti oleh melemahnya Sirkulasi Walker (Angin Pasat Samudera Pasifik Tropis) dari kondisi normalnya.

Sementara itu, tidak terdapat indikasi kejadian anomali iklim Samudera Hindia, IOD (Indian Ocean Dipole) dan diprediksi tetap dalam status netral hingga pertengahan 2019.

"Aktifnya El Nino lemah diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap Sirkulasi Monsun (angin)," jelasnya.

Kajian historis pengaruh El Nino lemah terhadap curah hujan menunjukkan dampak yang tidak jelas terhadap sebaran curah hujan di Indonesia.

"Apalagi pada saat periode Maret-April-Mei, umumnya dampak El Nino tidak seragam di Indonesia, sehingga dimungkinkan pula tidak memengaruhi peralihan musim hujan menuju musim kemarau," kata dia.

Pada tahun El Nino, curah hujan umumnya berkurang hingga di bawah minus 40 persen di banding pada tahun Netral.

Dampak paling besar terjadi pada Juni-Juli-Agustus dan September-Oktober-November yang menjadi puncak musim kemarau berdampak berkurangnya pasokan air bagi tanaman pertanian.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR