LIBURAN tentu masa yang ditunggu-tunggu para pekerja dan pelajar di mana pun. Sebab, mereka berkumpul dengan keluarganya atau pergi liburan sesuai dengan kemampuannya.

Na... kik liburno, cak mulang mit pekon (na... kalau liburan, lebih baik pulang kampung kita). 



Namun di Jepang, warganya justru kebingungan menghadapi liburan panjang selama 10 hari. Libur panjang untuk menandai turunnya kaisar akhir bulan ini dan “Pekan Emas” sebagai liburan tradisional di sana, dan industri perjalanan dan pariwisata mendapat rezeki. 

Dilansir dari Guardian, sejumlah karyawan kontrak yang dibayar per jam atau per hari khawatir kehilangan pendapatan. Para orang tua juga khawatir menjaga anak-anak mereka tetap sibuk selama libur panjang. 

Kacah de ana kantik, wat muneh sai mak gekhing libur no. Wat-wat gawoh (Kacau itu kawan, ada juga yang tidak suka liburan itu. Ada-ada saja). 

"Bagi orang tua yang bekerja di sektor jasa, liburan 10 hari membuat sakit kepala. Kita masih harus mengurus perawatan usai sekolah karena tempat penjagaan anak tutup," curhat orang tua di Twitter, dilansir dari laman The Guardian, Rabu (3/4). 

Seorang karyawan industri keuangan, Seishu Sato menuturkan dia bingung menghabiskan liburan. 

"Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana menghabiskan waktu ketika kita tiba-tiba diberi 10 hari libur. Jika Anda ingin bepergian, akan penuh sesak di mana-mana. Bahkan biaya tur telah melonjak," ceritanya. 

Liburan memaksa sebagian besar karyawan menjauh dari pekerjaan. Ini membuat para karyawan di Negeri Sakura merasa bersalah pada pekerjaan mereka.

Biasanya para pekerja Jepang mengambil liburan tahunan lebih sedikit dibanding pekerja di negara lain. Hampir 60% mengatakan mereka merasa bersalah menggunakan hak cutinya. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR