Media sosial sejatinya adalah sarana untuk saling berbagi informasi dan menjalin silaturahmi. Banyak manfaat yang sebenarnya bisa didapatkan apabila sarana bermedia tersebut dikelola secara bijak juga beretika.  
Namun, beragam jejaring sosial kerap dimanfaatkan oknum untuk menyebarkan hoaks atau berita bohong. Ujaran kebencian merebak di dunia maya. Bahkan, tidak jarang menyangkut hal sensitif; suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Ujaran kebencian berbalut isu SARA tidak hanya membuat riuh, tapi juga dinilai meemicu kekerasan berlatar SARA beberapa waktu terakhir. Perilaku buruk bermedsos menjadi masalah pelik bangsa. Sebab itu, Kapolri pun mengeluarkan Surat Edaran (SE) No.SE/06/X/2015 soal penanganan ujaran kebencian.
Dalam SE itu disebutkan ujaran kebencian dapat berupa tindak pidana diatur Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan ketentuan pidana lainnya di luar KUHP. Ia berbentuk antara lain penghinaan, pencemaran nama baik, dan penistaan. Kemudian, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, termasuk menyebarkan berita bohong atau hoaks.
SE itu juga menyebutkan ujaran kebencian bertujuan menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan atau kelompok masyarakat dalam berbagai komunitas yang dibedakan dari aspek suku, agama, aliran keagamaan, keyakinan atau kepercayaan, ras, dan antargolongan. Kemudian, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel, serta orientasi seksual.
Meski ada aturan tegas pihak kepolisian, ujaran kebencian tidak putus menjadi polemik. Satu per satu para pelaku penyebar hoaks telah ditangkap. Dalam kurun waktu belum genap dua bulan pada 2018 ini saja, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri menangkap 18 tersangka kasus ujaran kebencian di media sosial yang berasal dari berbagai daerah. Namun, hal tersebut seolah tidak dijadikan pelajaran.
Kemarin (22/2), satu lagi tersangka penyebar ujaran kebencian ditangkap di Way Kanan, Lampung. Tersangka yang merupakan oknum guru itu menyebar berita hoaks melalui media sosial dan layanan pesan Whatsapp. Seorang guru yang sejatinya memberikan contoh yang baik, justru terjebak dalam dunia hoaks yang berpotensi menyebabkan konflik sosial.
Kita tentu saja sangat mengapresiasi langkah-langkah pihak kepolisian yang kian gencar membidik para pelaku penyebar hoaks. Hukuman yang dapat memberi efek jera sudah sewajarnya diterapkan bagi oknum-oknum yang berupaya membuat kegaduhan dan pemecah persatuan dan kesatuan.
Sudah sepatutnya semua pihak menyadari ujaran kebencian dan menyebar berita hoaks tidaklah memberikan manfaat sedikitpun. Sebab itu, bijaklah menyaring informasi, terutama di media sosial agar tidak terjerumus dalam kebohongan-kebohongan yang merusak kekuatan dan keharmonisan bangsa Indonesia. Menahan diri dan mengontrol emosi harus bisa dilakukan agar kita tidak terjebak jeratan UU yang bisa menjerumuskan pelakunya ke bui.

 



 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR