JAKARTA (Lampost.co)--Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga Rabu siang ini masih terlalu murah (undervalued), tapi dalam beberapa waktu ke depan, Bank Sentral menegaskan potensi penguatan kurs terbuka lebar.
Hingga Rabu (2/1/2019), pukul 14.00, nilai rupiah diperdagangkan sebesar Rp14.465 untuk 1 dolar AS di pasar spot, atau melemah 19 poin dibanding saat pembukaan pasar rabu pagi.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, di Jakarta, mengatakan meski masih terlalu murah, ruang penguatan untuk mata uang Garuda cukup terbuka, terutama karena berkurangnya potensi dana keluar setelah sinyalemen Bank Sentral AS Federal Reserve yang "memotong" perkiraan frekuensi kenaikan suku bunganya tahun ini.



Pada akhir 2018, BI memperkirakan The Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya menjadi hanya dua kali dari perkiraan sebelumnya sebanyak tiga kali.

Selain itu, sebagai otoritas moneter, Perry berjanji akan mengoptimalkan langkah stabilisasi pasar tahun ini dengan berbagai instrumen seperti intervensi yang terukur, barter valas (swap), maupun domestik- NDF (DNDF).

"Dua faktor lainnya untuk penguatan rupiah adalah kredibilitas kebijakan yang ditempuh oleh BI maupun pemerintah, dan defisit transaksi berjalan yang lebih rendah," kata Perry.

Pada 2019, BI mengklaim optimistis defisit transaksi berjalan Indonesia akan menurun menjadi 2,5% produk domestik bruto (PDB) dari kisaran 3% PDB di 2018.

Sepanjang 2018, ketika tekanan eksternal sedang tinggi menerpa pasar keuangan Indonesia, rupiah terdepresiasi 5,9%, dengan tingkat volatilitas 8%.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR