PUNCAK peringatan Hari Anti-Narkotika Internasional tahun ini berlangsung di Bogor, Jawa Barat, hari ini, 12 Juli 2018. Ini menjadi momentum seluruh elemen menyatukan tekad dan kekuatan menghabisi para sindikat pengedar narkoba di Tanah Air.

Kita patut mengapresiasi kerja keras Badan Narkotika Nasional (BNN) maupun pihak kepolisian yang selama ini tidak henti-hentinya bertindak tegas memberantas peredaran narkoba. Namun seolah tanpa jera, praktik penyalahgunaan barang haram di Indonesia masih saja terus terjadi dan tumbuh subur.



Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan dan pekerjaan rumah bagi pihak-pihak terkait. Memberantas narkoba ternyata bukanlah hal mudah. Perlu sinergisitas dari semua pihak, termasuk masyarakat, untuk ikut terlibat mengatasi persoalan barang haram tersebut.

Tidak kalah pentingnya, semua pihak harus menyadari betapa bahayanya narkoba bagi nasib bangsa ini ke depan. Kesadaran itu diharapkan dapat menjamah semua elemen agar bersama-sama menyatukan keberanian untuk menyatakan tidak pada narkoba.

Indonesia sejatinya telah menyatakan darurat narkotika sejak 2015. Namun, setahun terakhir justru tercatat 4—5 juta jiwa teridentifikasi sebagai pencandu barang haram itu. Itu artinya kerja keras aparat penegak hukum belum mendapat dukungan penuh semua pihak.

Tahun 2017, BNN mengungkap 46.537 kasus narkotika di seluruh wilayah Indonesia dengan barang bukti berupa 4,71 ton sabu-sabu, 151,22 ton ganja, dan 2.940.748 butir pil ekstasi, serta 627,84 kilogram pil ekstasi. Dari kasus itu BNN menangkap 58.365 tersangka dan 79 tersangka yang mencoba melawan petugas ditembak mati.

Di Lampung, peredaran narkoba pun tidak bisa dianggap sepele. Data BNNP Lampung pada 2014, jumlah pengguna narkoba di Bumi Ruwa Jurai mencapai 74.224 orang, meningkat menjadi 128.529 orang pada 2017. Akibatnya, peringkat jumlah pengguna narkoba Provinsi Lampung naik dari urutan ke-10 pada 2014, menjadi urutan kedelapan pada 2018 dari 34 provinsi. Di Sumatera, Lampung berada pada urutan ketiga penyalahgunaan narkoba.

BNNP Lampung setidaknya telah memetakan tujuh kabupaten/kota sebagai daerah rawan peredaran narkoba, baik penjualan maupun pemakaian. Ketujuh kabupaten/kota itu adalah Lampung Utara dengan total 7 desa, Tulangbawang Barat 4 desa, Lampung Timur 1 desa, Lampung Selatan 6 desa, Tanggamus 4 desa, dan Bandar Lampung 16 kelurahan.

UU No 35/2009 tentang Narkotika sebenarnya telah mengatur secara tegas sanksi pidana dan denda bagi para pelakunya. Namun, belum sepenuhnya membuat gentar para pelaku penyalahgunaan narkoba. Tidak ada pilihan lain, kita semua harus bersatu untuk berperang melawan narkoba.

Cegah sejak dini peredaran narkoba di seluruh pelosok negeri. Pengawasan di daerah-daerah terindikasi menjadi jalur pintu masuk barang haram tersebut harus diperketat. Pelabuhan, bandara, terminal, hingga jalur-jalur tikus harus dapat menjadi sorotan ekstra aparat terkait.

Masyarakat pun diharapkan tidak tinggal diam. Awasi lingkungan tempat tinggal sekitar jangan sampai disusupi para pelaku penyalahgunaan narkoba. Untuk menghabisi kejahatan narkotika di Republik ini hingga ke akar-akarnya sudah barang tentu butuh kerja sama semua pihak. Bersikap acuh atas persoalan pelik ini sama saja menyerahkan masa depan bangsa ke tangan busuk para mafia narkoba. n

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR