Lampost.co -- Small is sexy disingkat SIS bukan sekadar kumpulan para pehobi miniatur mobil bus yang bisa membuat kita asyik. Jika digeluti dengan serius, kesenangan yang satu ini malah bisa menambah isi kocek.  Sesuai dengan namanya, SIS, komunitas ini menjadi salah satu wadah bagi penggemar miniatur bus dan truk di Indonesia.
Berawal dari obrolan santai antara M Arif Zafran, Susanto Tri Wibowo, dan Agus Ganesia, akhirnya mereka sepakat mendirikan komunitas SIS pada 15 November 2012 di Yogyakarta. Salah satu anggota SIS Lampung, Sandra Saputra, menceritakan banyak hal yang sering dilakukan oleh komunitas unik satu ini, di antaranya kopi darat SIS Jambore Nasional, pameran miniatur transportasi, dan bakti sosial.
"Untuk hasil karya, biasanya ada yang dikoleksi dan diperjualbelikan karena di komunitas kami ada perajin dan kolektor. Masyarakat juga selain bisa melihat komunitas, sekaligus bisa memiliki hasil karya kami," ujar Sandra, beberapa hari lalu.
Dia menjelaskan biasanya anggota SIS yang berprofesi sebagai perajin membuat hasil karyanya berupa bus dan truk dengan bahan yang biasa digunakan, seperti resin, akrilik, dan triplek. "Untuk membuat miniatur bus biasanya perajin bergantung pada pembelinya ingin memesan bus model seperti apa, akan kami buatkan karena setiap orang seleranya kan berbeda- beda," ujarnya.
Membuat miniatur bus agar hasilnya maksimal banyak faktor yang perlu diperhatikan, terutama tingkat kedetailannya, mulai dari bodi, interior, sampai kaki kaki/sasis. Dengan tingkat detailnya tersebut akan menghasilkan sebuah miniatur kendaraan yang benar-benar mirip dengan aslinya. Penikmatnya atau kolektornya sampai sekarang banyak. Kolektor miniatur bus ini mulai dari anak-anak usia belasan tahun hingga orang tua. Semua tingkatan ada.
Sampai saat ini cukup banyak anggota yang bergabung di komunitas SIS. Setiap anggota diberikan kebebasan untuk saling berkreativitas dan berinteraksi, tetapi diharapkan juga masih tetap dalam koridor demi kenyamanan bersama. Kreativitas tanpa batas, bukan beban dan kebersamaan itulah yang menjadi prinsip untuk menyatukan sesama anggota komunitas.
Selain bebas berekspresi, saling bertukar pengalaman serta informasi seputar teknik pembuatan dan lainnya. Biasanya, sesama anggota saling memberikan masukan, ide, dan gagasan demi kemajuan bersama. Bahkan tidak segan-segan jika ada salah satu anggota yang berbuat keliru mereka saling mengingatkan dan merangkul demi kesolidan bersama.
Meski demikian, dia mengkui bahwa masih banyak masyarakat yang memandang sebelah mata pecinta miniatur bus ini. Namun, tidak jarang pula yang memuji keahlian mereka dalam inovasi sebuah hasil karya yang cukup bagus. Pasalnya tidak semua orang mengerti seni dan menyukai kerumitan.
"Kadang mereka menganggap sepele seperti anak kecil, terus bus ko disenengi. Begitu mereka tahu berapa harga yang kami jual, mereka diam," ujarnya.
Selain itu, komunitas SIS di Lampung masih belum berkembang seperti kota-kota lainnya. Hal itu disebabkan oleh jauhnya jarak antarsesama anggota.
"Soalnya kami terkadang terhambat oleh jarak antarkabupaten yang cukup jauh. Itulah salah satu kendala terbesar kami."

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR