KALIANDA (Lampost.co)--Raut wajah Samsul Bahri (45) terlihat sangat lelah. Ia mondar mandir di sekitaran puing-puing bekas rumahnya yang turut diterjang tsunami, Sabtu (22/12/2018) lalu. Rumah yang begitu nyaman ditempatinya, kini rata dengan tanah. 

Satu per satu puing-puing bekas rumahnya diangkat dengan kedua tangannya. Satupun tak ada barang-barang miliknya bisa diselamatkan. Termasuk berkas dokumen penting milknya hancur diterpa ombak.



Samsul hanya bersyukur ia bersama anaknya nomor dua selamat dari bencana tsunami itu. Pria berkulit hitam itu menceritakan kronologis yang dialaminya ketika berjibaku dengan gulungan ombak. Seraya mata berkaca-kaca ia mengaku saat gelombang datang dirinya bersama anak dan istri serta ibu kandungnya berada dalam rumah. 

"Saat itu anak dan istri serta ibu sudah tidur. Gelombang datang pertama saya langsung membawa anak saya yang bungsu umur 3 bulan. Namun, ombak datang lagi sehingga anak bungsu saya terlepas entah kemana," kata warga Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa itu. 

Pada gelombang kedua, mereka sekeluarga terombang ambing oleh gelombang. Beruntung Samsul berhasil memegang anaknya yang pertama Anisa (12). Saat itu mereka berdua berpegangan erat di atas pohon. 

"Beruntung pohon yang kami pegang tidak roboh. Sedangkan, kondisi rumah sudah hancur akibat gelombang. Sedangkan, nasib anak kedua  Ahmad Saiful Saputra (8) dan ibu kandung Sulaihun (74) ditemukan meninggal. Sedangkan, anak bungsu M. Akbar Maulana (3 bulan), isteri Meda Wati (37) belum ditemukan, entah kemana," kata dia. 

Bukan hanya kehilangan keluarga dan harta benda, tapi Samsul mengaku kehilangan pekerjaannya sebagai nelayan. Ia tidak tahu kapan bisa membangun kembali kehidupannya bersama anaknya.  
"Enggak tau, mas. Gimana nasib kami kedepannya. Rumah sudah tidak ada. Harta berharga yang saya miliki sekarang hanya anak saya kedua ini. Kami hidup dari nol lagi," kata bapak tiga anak itu. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR