BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Sore itu, Jumat (22/12/2017), cuaca mendung yang tidak begitu bersahabat. Tak berselang lama hujan deras pun turun mengguyur Kota Tapis Berseri. Guyuran hujan yang begitu deras membuat jalan dua jalur itu lengang dari aktivitas hilir mudik kendaraan.
Tidak jauh dari lokasi proyek jalan layang Mal Boemi Kedaton yang tengah dikerjakan Pemerintah Kota Bandar Lampung, tepat di depan kampus besar Teknokrat duduk dua orang di bawah tenda beratapkan terpal warna biru sebagi penahan air hujan supaya tidak membasahi usaha kecil yang mereka tekuni. Keduanya merupakan pasangan suami-istri (pasutri) namanya Habibi dan Deviana.
Sepasang bangku kayu itu menjadi saksi aktivitas keseharian keduanya. Suka dan duka dihabiskan pasutri itu di tepi jalan ditenda berukuran 2 x 2 meter persegi sejak enam bulan yang lalu. Keduanya berjualan nasi uduk beserta makanan kecil lainya.
Payung besar dengan corak warna-warni tepat di samping tenda biru itu sebagai penahan panas terik matahari dan air hujan supaya tidak membasahi etalase kecil yang berisikan makanan yang setiap harinya dijajakan keduanya.
Sejak pukul 14.30 keduanya sudah mempersiapkan dagangan, pelanggan pun sudah mulai berdatangan meski tidak banyak. "Maaf, dilap dulu kursinya biar enak duduk," begitu ucapnya saat wartawan Lampung Post menghampiri warung nasi uduk milik pasutri itu.
Begitu ramahnya keduanya kepada setiap orang yang datang. Meski hanya duduk untuk berteduh karena kehujanan, keduanya menawarkan air putih yang sengaja disiapkan di atas meja kayu berselimut tenda biru itu. "Silakan minum dulu, enggak apa-apa di sini. Mau beli atau tidak, duduk-duduk saja silakan," kata Habibi.
Obrolan hangat itu berlanjut, hingga pemilik warung itu pun menceritakan tentang kisah kesehariannya. Keduanya berasal dari Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran. Setiap menjelang siang, suami istri itu datang ke Bandar Lampung untuk mengais rezeki dengan berjualan nasi uduk. "Kadang enggak tahan kalau pulang-perginya. Berangkat siang, pulang tengah malam. Kasihan sama istri sudah dingin capek juga," kata Habibi.
Menggantungkan hidup sebagai pedagang makanan di tengah ibu kota bukan perkara yang mudah. Menurut Habibi, harus selalu sabar dan tekun berusaha supaya usahanya bertahan. "Tawakal saja, rezeki mah sudah ada yang ngatur. Meski kadang sepi, saya yakin Tuhan enggak pernah tidur," kata dia.
Bapak tiga anak itu berharap apa pun usahanya di kemudian hari selalu lancar dan diberi kemudahan serta berkah yang Mahakuasa. "Sebetulnya berat ninggalin anak sehariaan. Pulangnya larut malam terus. Tapi, mudah-mudahan tidak ada usaha yang sia-sia, selagi kita tekun pasti diberi kemudahan," ujar Habibi. 

loading...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR