KETIKA tiba di Desa Negaranabung, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur, terhamparlah suatu pemandangan indah di sisi kanan jalan raya jika Anda menempuh perjalanan dari Metro. Panorama berupa hamparan danau itu dikenal masyarakat setempat sebagai Danau Beringin Indah. Keindahannya kian terasa manakala masuk lebih jauh ke kawasan danau tersebut.
Air danau yang beriak lembut saat ditimpa sinar mentari menyemburatkan kilauan cahaya indah. Kerindangan pepohonan di beberapa sudut pinggiran danau juga tidak kalah elok dan mampu meneduhkan mata yang memandangnya. Jika beruntung, Anda bisa melihat beberapa ekor ikan berukuran lumayan besar berenang naik ke permukaan air danau. Sebelum menghilang kembali ke dasar danau, biasanya ikan-ikan itu bergerak kian kemari dan nampak menari–nari riang mengiringi alunan musik orkestra alam yang muncul dari perpaduan suara lembut air dan daun yang bergesek ditiup angin.
Danau Beringin Indah kerap disebut warga sekitar sebagai Dam Way Kawat. Saat memasuki areal danau itu bisa melalui gerbang dengan gapura bertuliskan Danau Beringin Indah di Desa Negaranabung dan bisa juga melalui jalan Desa Terbanggimarga, Kecamatan Sukadana. Danau Beringin Indah yang luasnya diperkirakan 160 hektare itu airnya terhitung lumayan jernih dengan bias warna lumut yang kehijauan.
Sekretaris Desa Negaranabung, Kecamatan Sukadana, Sahroni (49) mengungkapkan Danau Beringin Indah bukan merupakan danau bentukan alam. Namun, danau itu terbentuk karena proses yang dilakukan manusia. Danau itu awalnya merupakan aliran sungai yang dikenal warga dengan Way Kawat. Sungai Way Kawat sendiri sebelumnya merupakan muara dari sejumlah anak sungai yang kemudian mengalir dari Desa Negaranabung ke arah Desa Terbanggimarga, Kecamatan Sukadana. Tujuannya agar dapat mengairi lahan sawah dan kebun di seputaran Desa Negaranabung.
Pada 1970-an (saat Lampung Timur masih menjadi bagian dari Lampung Tengah) sungai itu dibendung. Lokasi bendungan dibuat di Desa Terbanggimarga. Dengan adanya bendungan tersebut, debit air Way Kawat yang menjadi muara dan menampung aliran sejumlah anak sungai itu kian hari makin meninggi. Air meluap dan genangannya terus meluas hingga merendam ratusan hektare lahan kebun yang ada di sekitarnya. Air itu tidak surut dan membentuk genangan air yang kian melebar. “Seperti itulah asal mula terbentuknya Danau Beringin Indah,” kata Sahroni.

Upaya Pemkab
Berbagai upaya dilakukan Pemkab Lampung Timur untuk menjadikan danau ini menjadi destinasi tirta. Ya, seiring berjalannya waktu kawasan ini seolah mati suri. Saat Lampung Timur dipimpin Bupati Bahusin, Pemkab pernah menurunkan sejumlah fasilitas seperti dermaga apung mini, bebek-bebekan air, benih ikan, dan lain-lain. Bantuan tersebut diberikan dengan tujuan agar danau ini menjadi salah satu destinasi wisata.
Kemudian, ketika dipimpin Bupati Erwin Arifin, Pemkab berupaya membangun sejumlah fasilitas di lokasi tersebut. Bahkan, untuk menarik wisatawan pernah dibuat restoran terapung dengan sajian aneka makanan dari olahan ikan air tawar segar. Selanjutnya pada Agustus 2017 juga pernah digelar festival bersih danau oleh Pemkab yang dipimpin langsung oleh Bupati Chusnunia Chalim. Sayang, berbagai upaya itu belum mampu memberikan hasil yang memuaskan. Kunjungan wisatawan terhitung masih sangat minim. Kini danau tersebut hanya dimanfaatkan sejumlah warga sekitar sebagai lokasi budidaya ikan air tawar dalam keramba apung. Padahal, kondisi jalan sangat baik.
Sebab itu, Pemkab Lamtim mesti kembali berupaya dengan berbagai cara agar destinasi wisata yang masih alami itu bukan sekadar dikenal. Danau ini harus dapat menarik kunjungan wisatawan baik lokal maupun luar daerah.

loading...

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR