PADANG (Lampost.co)-- Saat ini siapa yang tidak kenal dengan penyu, salah satu spesies hewan laut yang dapat berusia puluhan dan bahkan ratusan tahun.

Akan tetapi belum semua masyarakat memahami bahwa salah satu jenis hewan purba ini masuk dalam kategori satwa yang dilindungi undang-undang karena keberadaannya yang mulai langka.



Terdapat berbagai faktor yang menjadi penyebab kenapa hewan yang satu ini berada diambang kepunahan, mulai dari ekploitasi oleh manusia hingga faktor alam.

Keberadaan penyu yang hampir punah tidak hanya menjadi persoalan lokal atau dalam negeri, akan tetapi sudah menjadi isu internasional, dimana
penyu dikenal sebagai hewan penjelajah samudera.

Adanya regulasi itu hendaknya dapat memberikan perlindungan terhadap hewan langka tersebut, sebab pada umumnya wilayah pesisir pantai di
Indonesia merupakan kawasan yang sering dijadikan lokasi pendaratan oleh berbagai jenis penyu.

Selain itu, alasan pentingnya menjaga kelestarian penyu ialah karena dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia, enam diantaranya dapat
ditemukan di perairan indonesia.

Enam spesies tersebut adalah penyu hijau (Chelonia Mydas), penyu pipih (Natattor Depressus), penyu belimbing (Dermochelys Coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta Caretta) dan penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea).

Upaya untuk melestarikan penyu tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah selaku pemangku kepentingan semata, akan tetapi
keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam upaya tersebut.

Di wilayah pesisir pantai Sumatera, dalam beberapa tahun belakangan mulai muncul kelompok-kelompok yang memiliki kepedulian terhadap
keberlangsungan hidup penyu.

Rasa prihatin terhadap maraknya pencurian telur serta pembantaian penyu untuk dikonsumsi menjadi salah satu alasan bagi para pegiat untuk
melindungi penyu.

"Di daerah saya, masyarakat masih mengonsumsi daging dan telur penyu dan bahkan daging dan telur tersebut juga diperjualbelikan," ujar salah
seorang pegiat konservasi penyu, Syahbudi Sikumbang.

Pria yang sehari-hari bergiat bersama kelompok Konservasi Pantai Binasi Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara tersebut menuturkan, hal itu kemudian membuatnya ingin menyelamatkan telur penyu agar tidak lagi dicuri dan dikonsumsi.

Sejak dulu di daerah tersebut merupakan lokasi pendaratan penyu, setelah penyu mendarat pada malam hari untuk bertelur, maka esok harinya ia akan menyaksikan telur serta penyu tersebut diperjualbelikan.

Berangkat dari hal itu, maka ia pun ikut ambil bagian untuk mengambil telur-telur tersebut. Bukan utuk diperjual belikan, melainkan untuk
direlokasi ke tempat yang lebih aman agar terlur itu dapat menetas.

Ketika pertama kali menyelamatkan telur penyu, pria yang akrab disapa Budi itu belum mengetahui bahwa penyu merupakan salah satu hewan langka
yang keberadaannya dilindungi undang-undang.

Di Indonesia, perlindungan terhadap keberlangsungan hidup penyu diatur dalam Undang-undang nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7
Tahun 1999.

Awal mula ia mengetahui bahwa penyu merupakan hewan yang dilindung adalah ketika ia mengurus izin kelompok, tepatnya ketika bertemu dengan
pejabat desa setempat.

Secara tidak langsung, ia menyebutkan ternyata pihaknya telah melakukan konservasi terhadap hewan tersebut.

Keinginannya untuk melakukan konserasi terhadap penyu pada awalnya tidak begitu mendapat dukungan dari masyarakat dan bahkan mendapat cibiran dengan disebut sebagai orang gila.

"Pada awalnya saya malah disebut orang gila, karena menyelamatkan telur, ditetaskan dan kemudian dilepaskan," tuturnya.

Sembari tertawa kecil, pria berdarah Minang itu menceritakan, bukan tanpa alasan masyarakat tersebut menyebutnya gila, betapa tidak, setelah telur dikumpulkan hingga akhirnya dilepaskan dalam bentuk tukik, ia tidak mendapatkan keuntungan secara finansial.

Akan tetapi, lama kelamaan upayanya untuk melestarikan penyu mulai memperlihatkan hasil, selain dari adanya tukik yang dirilis ke laut, hal lainnya adalah berubahnya pola hidup masyarakat yang awalnya mengkonsumsi penyu dan malah berubah menjadi pegiat konservasi.

Hal tersebut diawalinya dengan memberikan pemahaman sekaligus mengajak masyarakat untuk menghentikan kebiasaan mengkonsumsi daging dan telur
penyu.

Menurut Budi, saat ini ada sebuah daerah yang masyarakatnya sudah berubah 180 derajat, yakni pada awalnya mereka pengonsumsi penyu, sekarang malah berbalik dan ikut melakukan konservasi.

 

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR