TANGAN di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Peribahasa tersebut sangat cocok untuk menggambarkan kepedulian para anggota Komunitas Berbagi (Kombi) Lampung. Menjadi wadah orang-orang yang mau bersama membantu sesama.

Pendiri Kombi Lampung, M Dedy Kurniawan, mengatakan komunitasnya digagas karena masih banyaknya masyarakat di sekitar mereka yang membutuhkan bantuan, seperti anak-anak yatim piatu dan putus sekolah. Komunitas tersebut resmi berkegiatan sejak 15 Oktober 2015 dengan visi membangun gerakan kepedulian sesama.



"Kombi berdiri dari kondisi sosial masyarakat. Ternyata masih banyak anak yatim, duafa, dan keluarga kurang mampu yang membutuhkan uluran tangan para dermawan. Dari kondisi tersebut, kami membentuk Kombi agar ada wadah yang mengakomodasi para sukarelawan sebagai perantara para dermawan," ujar Dedy, pekan lalu.

Agar kegiatan yang dilakukan benar-benar tepat sasaran, mereka sepakat membuat delapan program rutin, di antaranya berbagi perlengkapan sekolah untuk anak yatim dan duafa setiap dua bulan sekali. Kemudian berbagi perlengkapan mengaji untuk anak yatim dan duafa setiap dua bulan, serta membagikan sembako dan kebutuhan rumah tangga kaum duafa dan uang saku untuk para pelajar yatim piatu.

"Uang saku tersebut kami titipkan kepada guru, kemudian guru menitipkan ke pihak kantin sekolah sehingga anak-anak yatim piatu bisa jajan. Ada juga yang sebagian memilih ditabungkan," kata dia.

Selain itu, komunitas ini juga menggagas program Koper Pustaka atau lapak baca gratis untuk masyarakat. Para sukarelawan bergantian membuka lapak bacaan di sekolah-sekolah atau pusat keramaian. Program lainnya yang juga dijalankan adalah makan siang gratis untuk pemulung, tukang becak, kuli pasar, dan orang yang membutuhkan.

"Program ini dilakukan setiap Sabtu siang dengan konsep warteg. Jadi sukarelawan melayani mereka mulai dari mengambilkan nasi sampai mencucikan piringnya," ujar dia.

 

Bekali Keterampilan

Hingga kini Kombi Lampung berkembang di berbagai daerah, seperti di Kota Metro, Bandarjaya, Pekalongan, Punggur, Kotagajah, dan Natar. Tidak hanya fokus membantu kebutuhan materiel, komunitas ini juga membekali masyarakat dengan keterampilan wirausaha.

Dalam waktu dekat mereka juga berencana mengadakan kegiatan berbagi sembako yang diperuntukkan untuk janda lansia di Lampung Tengah dan Lampung Timur, serta mengadakan kegiatan makan siang gratis.

Hingga kini sekitar 78 sukarelawan aktif berkegiatan di komunitas ini. Mereka tersebar dari beberapa daerah, seperti Bandar Lampung, Metro, Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Tengah, Tulangbawang Barat, Kotaagung, bahkan ada yang dari luar Lampung.

"Sukarelawan kami sangat beragam, ada yang berusia 4 tahun dan ada yang sudah berusia 65 tahun. Kemudian dari berbagai kalangan, seperti pelajar SMA, guru, tenaga medis, hingga polisi," kata dia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR