PEKAN depan seluruh umat Islam di Tanah Air mulai menyambut Ramadan 1439 Hijriah. Berikutnya, setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh akan dilanjutkan dengan perayaan Idulfitri.

Berdasar pada pengalaman selama ini, pada saat momentum Ramadan dan Idulfitri permintaan pangan akan melonjak dibanding dengan hari-hari biasa. Inilah kesempatan terbaik bagi kartel atau mafia pangan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.



Caranya dengan menahan stok bahan pokok untuk mendapatkan harga berlipat. Mereka berdalih kenaikan harga akibat tingginya permintaan, padahal pemerintah sudah sejak jauh-jauh hari menyiapkan stok pangan dalam jumlah yang cukup.

Untuk mencegah penimbunan bahan pangan, menjelang Idulfitri tahun lalu Kapolri bersama Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Menteri Dalam Negeri, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Bulog, dan Bea Cukai membentuk Satgas Pangan. Pembentukan satgas tersebut dilanjutkan secara berjenjang hingga ke daerah.

Secara berkala, satgas melaporkan hasil monitoring setiap dua pekan sekali.

Di Bandar Lampung, menjelang Idulfitri tahun ini Satgas Pangan menginspeksi mendadak ke sejumlah pasar tradisional dan pasar swalayan. Hasilnya, ada pedagang di Pasar Pasirgintung menjual beras asalan hingga Rp11 ribu/kg atau lebih tinggi dari harga eceran tertinggi beras medium, yakni sebesar Rp9.000/kg. Pengawasan juga dilakukan untuk komoditas pangan lain di antaranya daging sapi, daging ayam, minyak goreng, dan bawang putih.

Tetapi memang kerja Satgas Pangan lebih difokuskan pada stabilisasi harga beras. Pasalnya, ada ketimpangan sangat besar dalam perdagangan komoditas bahan pangan pokok tersebut.

Data Polri, omzet perdagangan beras di Tanah Air ditaksir mencapai Rp500 triliun per tahun. Dari jumlah itu, kelompok para pedagang beras yang jumlahnya sekitar 400 ribu orang meraup keuntungan Rp126 triliun. Sementara itu, sekitar 56 juta petani padi hanya mendapat bagian keuntungan sekitar Rp60 triliun. Ketimpangan terjadi karena ada persekongkolan besar dalam perdagangan dan distribusi beras.

Untuk stabilisasi, Bulog Lampung melalui Gerakan Stabilisasi Harga Pangan sudah menyiapkan komoditas komersial berupa Paket Ramadan. Paket tersebut berisi beras, gula, minyak goreng, dan terigu dan siap disebarkan ke seluruh daerah di Lampung. Kreativitas tim Bulog untuk menciptakan stabilitas harga pangan patut diapresiasi.

Tetapi dalam pelaksanaannya, tugas penegakan hukum untuk stabilisasi harga berada di pundak Satgas Pangan. Menjelang momentum krusial seperti Ramadan dan Idulfitri, tim tersebut harus meningkatkan frekuensi monitoring harga. Sebab, kenaikan harga sering bergerak cepat bahkan kurang dari dua pekan.

Selain monitoring, satgas juga harus berani memburu dan menindak tegas kartel atau mafia pangan yang terbukti memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan di atas kewajaran.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR