ORANG Abung yang dulunya membangun kompleks megalit di Tangkit Kurupan, terdapat aturan adat bahwa pemuda yang dapat menikah hanya yang dapat menunjukkan kepala dari orang yang ia bunuh. Oleh sebab itu, pemuda yang siap menikah berkelompok sekitar 10 orang untuk pergi berburu kepala.

Senjata mereka berupa pedang, tombak, dan belati. Sebagai bekal dibawa nasi dan sejumlah gula. Kemudian mereka menjelajah ke dataran Semaka untuk menyerang dan membunuh petani padi. Baru setelah mereka mendapatkan jumlah kepala yang mencukupi, mereka kembali ke desa asalnya di gunung yang tertutup hutan belantara di utara Tanggamus.



Para perempuan yang sudah siap menikah mengarahkan para pemuda ke rumah-rumah mereka. Kedatangan para pemuda itu merupakan kemunculan pengantin pria. Namun, yang boleh kembali ke kampung adalah mereka yang berhasil dalam perburuan, yang lainnya harus menghindari makian dari desa.

Kemudian, upacara pernikahan dilaksanakan. Dalam upacara tersebut, kepala-kepala yang telah ditangkap memiliki peran yang penting. Dengan sedikit emas atau perak, pengantin pria menyerahkan kepala yang ia tangkap kepada ayah sang gadis yang dipilihnya. Pasangan-pasangan itu kemudian meminum minuman keras berbumbu secara bergantian pada upacara penutupan.

Tombak, pedang, dan keris merupakan senjata para pemburu kepala ini. Barang-barang tersebut hingga sekarang masih menjadi syarat pada tari tigel, tarian perang kuno orang Abung yang menggambarkan perincian proses perburuan kepala.

Tari tigel menunjukkan pengejaran pemburu kepala yang bersenjata terhadap musuhnya. Lalu, bagaimana musuh ini dibunuh dengan tombak dan kepalanya disembelih dengan pedang pendek. Namun, makna tari tigel ini tidak lagi diketahui orang Abung yang sekarang.

Pada 1953, Funke merekam vide tiga tarian tigel di suku yang berbeda di Sewu Mego dan kelompok Mego Pak. Pada waktu bersamaan membuat sejumlah foto dari masing-masing adegan yang menunjukkan tahap berbeda secara jelas.

Informasi akurat mengenai persediaan makanan para perburuan kepala menunjukkan kebenaran berita tersebut dan tujuan dari seluruh kegiatan. Batasan bekal nasi telah diperkirakan dengan baik. Dengan jumlah nasi yang ditentukan akan membuat para pemuda pemburu bekerja lebih cepat dan energik. Kegagalan perburuan akan mendapatkan hukuman diusir dari kampung halaman.

Begitu pula jumlah gula yang dibawa memiliki arti tersendiri. Gula dipandang sebagai persediaan makanan yang sangat berharga bagi orang Abung sekarang. Beberapa kali Funke melihat pabrik gula di permukiman kecil, sari aren dikentalkan menjadi gula jawa berwarna cokelat pekat.

Setiap pemuda yang sudah siap menikah setidaknya harus menangkap satu kepala sebelum menikah. Pada semua suku pemburu kepala, hal ini dipandang bahwa kekuatan hidup seseorang harus ditingkatkan sebelum melangsungkan pernikahan dengan cara gaib. Kepala merupakan tempat kekuatan magis tersebut. Penangkapan kepala tersebut melipatgandakan kekuatan yang dimiliki pemburu kepala.

Konsep yang sama juga mendasari penghantaran piala kepala yang ditangkap kepada ayah pengantin perempuan. Keluarga pihak perempuan menderita kerugian akibat pernikahan anak gadisnya atas kekuatan gaib ini. Kerugian dibayar dengan penyerahan kepala kepada kepala keluarga. Begitu pula konsep yang sama mendasari syarat yang diatur dengan sangat keras dan jujur, harga pengantin perempuan. Perkembangan akhirnya pembayaran harga pengantin perempuan diganti dengan uang. Hal ini baru dilakukan dalam 150 tahun terakhir.Dalam tradisi pernikahan, juga ada ritual gaib meminum minuman keras berbumbu menggunakan kepala dipercaya memengaruhi kekuatan kedua pengantin.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR