KALIANDA (Lampost.co) -- Gelombang hidup yang keras terus bergulir di Pelabuhan Bakauheni. Orang-orang berseragam merah itu sudah terbiasa meski harus meninggalkan keluarga. Bahkan pulang tanpa uang dalam genggaman. 

Seperti hari-hari sebelumnya, Kamis (16/5/2019) pukul 14.00 WIB, sebuah Kapal Motor Penumpang dari Pelqbuhan Merak mulai merapat di dermaga II Pelabuhan Bakauheni.



Di tengah ujung gangway dermaga II, Kholik (42), salah seorang lelaki berseragam merah-merah menerobos masuk kapal saat anak tangga yang menghubungkan kapal dengan gangway bertemu.

"Sini bu, saya bawakan barang yang berat-berat. Mau sampai terminal atau pangkalan ojek saja bu,” kata pria itu menawarkan jasa kepada penumpang kapal. Ongkos angkut pasukan seragam merah-merah, yang populer dengan sebutan buruh teng-teng itu, tergantung jarak tempuh dan beban yang dibawa kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu.  

"15 tahun saya bekerja sebagai buruh tengteng di pelabuhan ini mas," ungkap pria asal Pulo Merak, Cilegon, Banten, kepada lampost.co.

Bagi Kholik, Pelabuhan Bakauheni menjadi rumah keduanya. Bapak tiga anak ini, tidur, makan, minum, dan mandi di pelabuhan Bakauheni.

”Tengah malam baru saya pulang rumah. Kalau pas rame, seperti saat mudik lebaran, saya bisa tiga hari baru pulang," katanya.

Di Pelabuhan Bakauheni ia hidup bersama pedagang asongan dan buruh tengteng lainnya. Untuk mengobati rasa lelah dan kangen, tiap saat ia berusaha menghubungi istrinya walau setiap hari hasil jerih payahnya tak menentu. Namun komunikasi menjadi penting meski sekadar menanyakan kabar ketiga buah hatinya.  

"Walau tiap hari pulang, saya pasti telpon istri tanya kondisi anak anak. Sekarang kan biaya untuk telepon kan murah sehingga bisa menelepon anak-istri tiap hari,” kata pria berperawakan kurus itu.

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR