JALAN tol merupakan layanan berbayar yang diberikan pemerintah kepada para pengguna kendaraan roda empat. Dengan pungutan tarif yang dikenakan, pengelola jalan tol harus memberi layanan lebih.

Layanan ekstra kepada para pengguna tol telah diamanatkan UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan terutama pada bagian II syarat-syarat jalan tol. Pada Pasal 44 Ayat (3) UU tersebut dijelaskan jalan tol harus mempunyai spesifikasi dan pelayanan yang lebih tinggi daripada jalan umum.



Amanat UU ini mengharuskan pemerintah sebagai pengelola menjamin kenyamanan dan keamanan berkendara di jalan tol. Jaminan keamanan dari berbagai ancaman, misalnya dari pelemparan batu dari orang tidak dikenal terhadap mobil yang melintas. Kasus ini terjadi di Jalan Tol Trans-Sumatera Bakauheni—Terbanggibesar—Pematangpanggang (Baterpang), Minggu (12/5).

Pengendaraan mobil ketika melintasi di area bawah flyover Desa Tamanagung, Kecamatan Kalianda, sekitar Km 34/35, ada yang melempar batu dari atas. Akibatnya, kaca depan mobil pecah.

Sebelumnya, di flyover Sabahbalau, Lampung Selatan, juga jadi keluhan. Banyaknya remaja yang nongkrong di atas jembatan itu, kerap melemparkan botol ke jalan tol. Ada juga yang mengeluhkan ada bagian jalan tol terlalu legok karena membahayakan mobil berukuran kecil.

JTTS ruas Bakauheni—Terbanggibesar sepanjang 140 kilometer adalah fasilitas yang baru diresmikan pada Maret lalu. Setelah peresmian hingga pertengahan Mei ini belum ada penerapan tarif tol atau masih gratis. Hal itu membuat animo pengendara melalui jalan tol sangat besar.

Namun, masyarakat sekitar tol yang belum bisa tertib menerima fasilitas baru itu. Jalan layang yang dibangun di atas tol ternyata menjadi tempat orang dengan motif iseng mengganggu pengendara yang melintas. Perbuatan tersebut justru sangat membahayakan keselamatan jiwa para pengemudi yang menggunakan tol.

Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola JTTS Baterpang, dalam hal ini PT Hutama Karya bersama aparat keamanan. Apa yang dilakukan oknum warta tersebut termasuk tindakan kriminal yang membahayakan nyawa orang. Butuh langkah tugas aparat kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.

Pelaku pelemparan batu harus ditangkap dan diberikan sanksi tegas sehingga memberi efek jara. Jangan sampai orang dengan seenaknya melemparkan sesuatu ke jalan tol yang bisa merusak fasilitas publik.

Selain langkah tegas, kasus ini memberikan peringatan kepada pihak pengelola tol untuk lebih meningkatkan pengawasan. Lokasi jalan layang yang dinilai rawan perlu diberikan penanganan ekstra. Jangan sampai kasus ini berulang sehingga membuat pengendara takut melintasi jalan tol.

Pengelola tol dan pihak keamanan bisa mengajak aparatur pemerintahan di sekitar untuk membangun kesadaran masyarakat agar sama-sama menjaga fasilitas negara tersebut. Tanpa ada kesadaran bersama untuk peduli pada keamanan dan keselamatan di jalan tol, maka kasus kriminalitas bisa terus terjadi.

Sinergi menjaga jalan tol ini penting dilakukan sehingga animo penggunaan tidak menurun. Jika pengendara malas masuk tol, akan berdampak pada pengembalian investasi yang makin jauh panggang dari api.

Investasi besar dalam membangun infrastruktur tol ini harus dipastikan memberikan manfaat bagi banyak pihak, terutama bagi perekonomian daerah. Syaratnya harus ada rasa aman dan ada kepastian hukum. Untuk itu, negara harus hadir memberikan keamanan.

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR