EMPU Tantular dalam kitab Sutasoma mengisahkan dia sebagai pemeluk agama Buddha hidup damai dan berdampingan di tengah rakyat Kerajaan Majapahit yang mayoritas beragama Hindu. Empu memberi istilah hidup dalam keberagaman itu dengan sebutan Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Indahnya masa lalu Indonesia. Negeri yang dihuni mayoritas orang-orang yang memiliki kepedulian tinggi menjaga persatuan dan kesatuan. Dan mereka berani menanggalkan ego kesukuan, golongan, agama, ras, dan antaretnik untuk menyatukan Nusantara. Kemajemukan di negeri ini akan bersatu, manakala anak-anak bangsa bersedia saling menerima, mengakui perbedaan, serta saling menghormati.



Akhir pekan ini, setiap 28 Oktober anak bangsa memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sebuah peristiwa sejarah yang membuat takjub karena anak muda datang dari berbagai daerah, suku, dan agama yang berbeda-beda berikrar untuk bersatu. Mereka berduyun-duyun datang ke Batavia—Jakarta untuk menegaskan tekad sebagai anak bangsa, yakni satu Tanah Air, satu bangsa, dan berbahasa persatuan. Itu nyata, bukan khayalan.

Mereka, yang menamakan diri Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, dan Pemuda Kaum Betawi, datang ke ibu kota tidak ada yang mensponsori. Mereka datang dengan hati nurani. Tidak ada oportunitas politik atau agenda kepentingan lainnya. Yang jelas, kaum muda ingin melepaskan diri dari belenggu penjajah untuk merdeka.

Sejarah membuktikan, pemuda banyak mengubah kehidupan masyarakat dan pelopor pergerakan. Seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan Samanhudi yang masih berusia 27 tahun. Begitu juga perkumpulan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 didirikan oleh Sutomo yang berusia 20 tahun.

Pemuda Ki Hajar Dewantara berusia 20 tahun mampu mendirikan Indische Partij pada 1912. Agus Salim dan Cokroaminoto memimpin Sarekat Islam (SI) pada usia 22 tahun.  Soekarno, bapak pendiri bangsa ini, mulai melakukan pergerakan pada usia 22 tahun. Presiden pertama RI itu menjadi ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) pada usia 26 tahun.

                                     ***

Dalam sejarah panjang anak bangsa, timbullah pertanyaan hari ini. Masihkah pemuda Indonesia menjadi agen perubahan bangsa pada era digital dan globalisasi yang kini mengepung negara? Dan masih mampukah anak bangsa menjadi benteng pengawal negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? Memang kompleks persoalan yang dihadapi negeri ini.

Pastinya, dengan modal ilmu pengetahuan dan teknologi, iman serta takwa, anak-anak bangsa mampu bertahan dalam persaingan global yang sudah menembus batas negara bahkan di kamar tidur. Dalam bahasa sastranya disebutkan, kemajuan teknologi informasi membuat negara seperti rumah tanpa pintu dan jendela. Artinya, apa saja yang terjadi di belahan dunia ini masuk tanpa ada yang mampu mencegahnya, termasuk penegak hukum. Luar biasa!

Kemajuan teknologi seperti televisi, telepon genggam, hingga internet menjadi bagian kehidupan anak muda. Alat teknologi itu sudah dalam genggamannya. Dengan kemajuan itu, paling dikhawatirkan adalah masuknya kejahatan transnasional. Kejahatan itu sudah di depan mata, seperti terorisme, narkoba, dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Kalau sudah begitu, mampukah Sumpah Pemuda yang diikrarkan kaum muda pada 1928 bertahan pada era globalisasi? Pasti jawabnya mengambang. Karena ada 135 juta pengguna internet di Indonesia adalah kawula muda. Mereka mencari jati diri. Karena setiap saat, mata dan telinganya dijejali beragam berita dan informasi hingga ujaran hasutan dan kebencian.

Di tengah gempuran kemajuan teknologi informasi yang membabi buta itu, Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 1928 diuji. Paling tidak, kekuatan dan keberadaan bahasa yang baik mampu membendung dan menyatukan keberagaman. Perbedaan itu selalu ditiupkan oleh media daring dengan bahasa caci maki, hasutan, dan kebencian.

Praktisi dari Forum Bahasa Media Massa, Tendy K Somantri, berpendapat media sosial yang cenderung dibanjiri informasi bohong menjadi peluang untuk memanfaatkan medium tersebut dengan baik. Dia mencatat sedikitnya 223 juta pengguna media sosial WhatsApp sebagai peluang bagi komunitas bahasa dan sastra, bisa diajak menjadi gerakan bersama dalam merawat kebinekaan dengan memberikan informasi yang positif.

Mau tidak mau, ketergantungan kepada teknologi dan informasi kian meningkat. Dan dunia sudah bertransformasinya ke dalam bentuk digital. Anak-anak bangsa bisa mendapatkannya dalam segala hal, baik positif maupun negatif, bahkan dengan cepat dan mudah. Jika semua itu tidak dibendung dan difilter, lambat laun negara yang besar ini akan bubar.

Ingat! Di situ ada pemuda sebagai agen perubahan, motor penggerak. Jika mereka tidak dibekali moral dan mental pejuang, tidak menghargai perbedaan dan saling menghormati, bangsa ini akan rapuh. Negara ini juga mudah disusupi kepentingan golongan yang memecah belah dengan cara-cara menghasut dan menyebarkan berita bohong.  ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR