LIWA (lampost.co) -- Masih minimnya sarana belajar dan bermain bagi anak-anak usia dini di wilayah Liwa, Lampung Barat, memotivasi para penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat mendirikan yayasan PAUD Tunas Bangsa di Kecamatan Balikbukit, yang diketuai langsung Tim Penggerak PKK Lambar Helwiati Komaladewi.
Kepala PAUD Tunas Bangsa Penti Oktavia mengatakan yayasan itu mulanya ditujukan menjadi kelompok bermain anak-anak pegawai di lingkungan Pemkab Lambar. Namun, belakangan dengan berbagai yayasan Tunas Bangsa mulai melaksanakan program pendidikan khusus bagi anak usia Taman Kanak-Kanak atau prasekolah secara umum.
"Jadi, setiap anak PAUD yang masuk di sini ke depannya tidak perlu lagi keluar melanjutkan pendidikan ke TK lain karena di sini kami sudah memberlakukan program pendidikan usia pra sekolah," kata Penti, Jumat (9/11/2017).
Tahun ini merupakan tahun pertama pelaksanaan penerimaan siswa TK yang jumlahnya sebanyak 15 anak. Program pendidikan yang dilaksanakan, kata Penti, tidak jauh berbeda dengan TK lain yaitu belajar sambil bermain akan tetapi lebih diperbanyak jam belajarnya.
Dalam membimbing dan mendampingi anak-anak pihaknya lebih mengutamakan pembentukan karakter dengan pola pendekatan dengan maksud agar anak dapat mandiri dan cerdas dan berakhlak mulia. "Jadi, sistem pendidikan yang dilaksanakan utamanya adalah membentuk karakter sang anak agar bisa mandiri dan cerdas," kata dia.
Untuk dapat membentuk karakter tersebut, lanjutnya, pendidikan yang dilaksanakan adalah dengan pola pendekatan guru kepada anak. Alasannya, jika guru tidak dapat mendekatkan diri kepada anak, mustahil anak akan merasa aman dan nyaman dalam menerima pengetahuan yang diberikan.
Sebab, kedekatan guru dengan anak akan membantu dalam menumbuhkembangkan kecerdasan anak. Kedekatan guru dengan anak juga akan membuat anak merasa diperhatikan.
Namun, untuk dapat membentuk karakter anak seperti yang diharapkan, menurut Penti, tidak serta-merta hanya tugas guru, tetapi perlu kerja sama dari orang tua dalam mendampingi anaknya saat di rumah.
Dalam mendampingi anak-anak, lanjutnya, para guru juga dituntut untuk lebih kreatif. Selain belajar, anak-anak juga diajak untuk belajar bidang agama. Selain itu, guru juga membimbing siswa agar menerapkan hidup sehat dan menjaga lingkungan tempat belajar agar selalu nyaman, sehingga mereka senang. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR