JIKA ada tumbuhan paling jahil sedunia pastilah bernama benalu. Tumbuhan tersebut hidup dan berbuah dengan menumpang pada tumbuhan lain.
 
Akar benalu tak perlu susah-susah menembus batuan keras atau tanah becek untuk mendapatkan makanan. Cukup dengan cara mengisap saripati makanan dari tanaman inang.
Pola makan dan pola hidup tanaman benalu itu sama persis dengan para pelaku pungutan liar (pungli). Tanaman inang yang diisap pelaku pungli adalah masyarakat. Tidak peduli kaum lemah seperti sopir, pedagang kecil, maupun masyarakat lain pengguna layanan publik.
 
Di Bandar Lampung, praktik pungli dalam pelayanan publik sudah menjadi rahasia umum. Termasuk pungli retribusi Terminal Kemiling yang ditarik oknum petugas dari para sopir. Dalih yang dipakai untuk retribusi terminal, padahal terminal di tempat itu tidak berfungsi.

Pungli di Terminal Kemiling hanya salah satu contoh dari segudang praktik pungli di provinsi ini. Maraknya praktik pungli di kalangan petugas dan pejabat mengonfirmasi budaya pungli yang disampaikan Bung Hatta sejak 45 tahun silam. Empat tahun kemudian, pada 1977 Presiden Suharto menunjuk Laksamana Sudomo memimpin Operasi Tertib (Opstib) untuk memberantas pungli. Hingga 1980, banyak pejabat tinggi hingga pegawai rendahan tersapu Opstib.



Hal yang sama juga dilakukan Presiden Joko Widodo dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 87/2016 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli). Tim tersebut dipimpin langsung Menko Polhukam Wiranto. Di Lampung, Gubernur mengeluarkan SK Nomor G/658/B.III/HK/2016 tentang Pembentukan Satgas Saber Pungli Provinsi Lampung. Sedangkan di Bandar Lampung, Wali Kota mengeluarkan SK Nomor 786/III.15/HK/2015 tentang Pembentukan Tim Satgas Saber Pungli.

Struktur organisasi Satgas Saber Pungli sudah terbentuk dari tingkat pusat hingga daerah. Personel tim tersebut pun direkrut dari pejabat penting birokrasi dan penegak hukum. Namun, sampai saat ini belum terlihat kinerja tim yang memadai dan terkesan kaya struktur miskin fungsi.

Buktinya jelas, berbagai praktik pungli masih saja terjadi, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Contoh paling nyata adalah pungli jalanan yang tidak kunjung ditindak tegas. Andai saja mau sedikit berkeringat, tidak terlalu sulit bagi tim intelijen Satgas Saber Pungli untuk menumpas habis pungli jalanan.
Tetapi yang dilakukan tim tersebut sekadar menunggu laporan masyarakat. Inilah yang disebut kaya struktur miskin fungsi itu.

Para pelaku pungli adalah benalu masyarakat. Satu-satunya cara menumpas tanaman parasit itu hanya dengan membabat habis sampai ke akar-akarnya.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR