MENGGALA (Lampost.co) -- Cerita pilu para tenaga honerer kategori dua (K2) belasan tahun mengabdi di Kabupaten Tulangbawang, namun tidak kunjung diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Meski dengan pendapatan yang tidak memadai, mereka tetap bertahan berjuang memberi pengetahuan, sebagai upaya mencerdaskan generasi penerus bangsa.



Salah satu peserta yang sedang mengadukan nasibnya untuk diterima menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Sai Bumi Nengah Nyappur mengaku sudah lebih dari 10 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru.

Perjuangannya dimulai sejak 2004 lalu. Dengan gaji perbulannya hanya sebesar Rp100 ribu. Meski gaji yang didapat jauh dari harapan. Namun, tidak lantas membuat laki-laki bertubuh gempal itu mengeluh dan berputus asa.

Dia tetap setia dan menyalurkan ilmu yang ia miliki kepada siswa siswi di SD Negeri 1 Margajaya, Kecamatan Meraksaaji. Sukemi Priyanto nama laki-laki itu. Ia mengaku, hingga 2019 terhitung sudah 15 tahun dia mengabdikan diri menjadi tenaga honorer. Bahkan, dia mengaku sudah delapan kali mengadukan nasibnya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Dulu 2004 gaji saya hanya Rp100 ribu, kalau sekarang sudah Rp350 ribu perbulannya. Jauh dari cukup, mas," kata Sukemi ditemui usai melaksanakan tes, di SMA Negeri 1 Banjaragung, Sabtu (23/2/2019).

Laki-laki asal Kampung Mulyaaji, Kecamatan Meraksaaji itu menceritakan, berbagai suka dukanya yang tiap hari harus menempuh jarak empat kilometer dengan waktu 15 menit untuk menyalurkan ilmunya. 

Terkadang, hanya untuk mencapai lokasi sekolahan. Tubuhnya harus berbasah-basahan dengan keringat, karena mendorong motor butut yang ia miliki. Ketika, tiba-tiba motor tua miliknya ngambek ditengah jalan.

"Itu dukanya, Mas. Kalau sukanya sih saya merasa senang aja ketemu anak-anak di sekolah bisa ngajar mereka. Paling enggak jasa saya bisa mereka ingat kalau pas sudah sukses," katanya.

Dia mengaku, motivasinya untuk menjadi PNS untuk dapat memperbaiki kehidupan keluarga dengan gaji yang memadai. Sebab, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Ia terpaksa harus menderes karet dan mengajar ngaji anak-anak di kampungnya.

"Gajinya terlalu kecil, Mas. Jadi terpaksa saya ngajar sambil keladang deres karet. Kadang-kadang saya harus deres karet siang hari, karena ngajar dulu paginya," ujar dia.

Seingatnya sudah tujuh kali ikut seleksi PNS dan terakhir pada tahun 2013. Ketika itu, lanjutnya, ia tidak pernah tau apa alasan dirinya tidak diterima menjadi PNS. Sebab, di jaman itu hasil tes tidak pernah diketahui, karena belum memakai sistem online. "Ini tes kedelapan kalinya," kata dia.

Dari hasil tes mengerjakan 100 soal kompetensi dan wawancara berbasis komputer dirinya mendapatkan nilai 105. Sukemi berharap besaran nilai tersebut dapat memuluskan usahanya untuk diterima menjadi PPPK.

"Mudah-mudahan bisa keterima, Mas," ujarnya.

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR