KOTABUMI (Lampost.co) -- Untuk meningkatkan kapasitas tenaga inseminator di Kabupaten Lampung Utara pada reproduksi ternak besar (sapi/kerbau), Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Bogor, Jawa Barat memperkenalkan uji klinis kebuntingan ternak besar (sapi/kerbau) dengan metode asam sulfat.

Tenaga pengajar BBPKH Cinagara, Widya Iswara, di hari terakhir Bimtek Tematik Peternakan, Minggu (13/5/2018), mengatakan uji klinis kebuntingan ternak besar dengan metode asam sulfat masih relatif baru di daerah. Dengan metode ini, kebuntingan hewan ternak dapat diketahui melalui urine ternak pada 24 hari pascainseminasi buatan (IB) atau kawin suntik dilakukan.



Sementara, dengan metode konvensional kehamilan hewan ternak baru dapat diketahui petugas setelah 2 bulan pascainseminasi buatan (IB). "Dengan metode asam sulfat, berhasil tidaknya IB pada ternak besar dapat di ketahui melalui test urine sekitar 24 hari pasca IB dilakukan dengan tingkat akurasi 94 persen. Sementara metode konvensional kehamilan baru dapat diketahui sekitar 2 bulan pasca IB," ujarnya, Minggu (13/5/2018).

Melalui metode ini, kata dia, petugas inseminator dapat mengetahui berhasil tidaknya IB dengan waktu yang relatif lebih singkat, sehingga bila terjadi kegagalan IB ulang dapat segera dilakukan kembali.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR