SUDAH dua bulan terakhir ini harga berbagai kebutuhan merangkak naik, terutama kebutuhan dapur, yang membuat kaum emak misuh-misuh karena harus membagi uang belanja mereka.

Harga kebutuhan makin melambung menjelang puasa bulan Ramadan. Sudah menjadi kebiasaan, mendekati bulan puasa, harga beragam kebutuhan bak ikut lomba lari, apalagi kebutuhan bumbu-bumbuan yang tiap hari digunakan, seperti bawang merah dan bawang putih, plus lauk idola cepat saji: telur ayam.



Kenaikan harga ini pun menjadi trending topic perbincangan kaum emak milenial yang membuat mereka semakin kepo untuk mengatur isi dompet. Menurut para emak, yang umumnya menyandang jabatan manajer keuangan rumah tangga, harga bawang bukan lagi naik, melainkan sudah ganti harga.

"Coba, deh! Sebelumnya, beli bawang putih seperempat kilogram masih Rp5.000, sekarang Rp19 ribu per 250 gram. Itu bukan naik, tapi ganti harga!" kata Emak Eva saat ngobrol soal harga yang menggila menjelang puasa ini.

Bahkan, akibat melesatnya harga bawang, sampai-sampai Emak Nova takut membeli bawang putih dan merah dan menyubsitusinya dengan bawang bombai yang lebih awet serta harganya stabil.

"Harus pinter-pinter ngakalin sekarang mah. Kalau ada yang komplain soal rasa, ya harus tambah uang belanja, dong!" ucapnya.

Saya pun menyambar perbincangan, "Iya, giliran harga melangit, eh kok cepet banget ya bawang di rumah abis. Baru beli tiga hari, sudah habis, padahal biasanya sampe seminggu masih ada, malahan sampe tumbuh tunas. Tahuan aja kalo lagi mahal minta dibeli terus! Sekarang, bawa uang Rp100 ribu Cuma buat beli bumbu-bumbuan aja!" hela saya.

Ternyata harga bawang tak cuma membuat pusing kaum hawa, kaum bapak juga mendapat imbasnya. "Haduh! Orang rumah sudah ngeromet aja nih soal harga kebutuhan yang naik. Apalagi mau puasa ini, pastinya pengen nyajiin makanan yang sedap dan nikmat. Harga-harga naik, kompensasinya uang belanja ya harus disesuaikan," ucap Aan sambil garuk-garuk kepala.

Ya, kenaikan harga kebutuhan ini harusnya segera diantisipasi, bukan dibiarkan. Toh, setiap tahun pasti ada bulan puasa Ramadan dan keran impor juga sudah dibuka.

Menurut data dari Menko Perekonomian, tahun ini kita bakal impor 115 ribu ton bawang putih asal Tiongkok. Kalau sudah impor, kok tidak diguyur ke pasaran supaya harga jadi lebih lumer? Jadi, jangan berlarut membuat masyarakat galau.

Yang membuat pertanyaan di benak saya, ternyata negeri yang subur makmur loh jinawi ini masih impor bawang putih 95% dari kebutuhan. Padahal, banyak daerah potensial untuk penanaman bawang putih dari Sabang sampai Marauke. Di Lampung saja, Lampung Timur punya lahan untuk pengembangan bawang putih. Mengapa tidak terus dikembangkannya terus tata niaganya diatur yang cantik, hingga petani tak juga merugi?

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR