TELAH dijelaskan, batu Kepangpang (batu yang terbelah), berada sekitar 1.000 meter sebelah timur dari permukiman Kenali. Menurut penduduk Kenali, dulunya kepala manusia disembelih pada batu itu. Dahulu memiliki kepala atau telinga adalah hal yang sangat diidamkan. Pernyataan itu menjadi amat jelas.

Keterbukaan telah menunjukkan dengan jelas bahwa reporter tidak berkenalan dengan para pemburu kepala ini. Nanti dijelaskan megalit dari Danau Ranau dipandang sebagai barang peninggalan suku Abung yang menghuni daerah itu.



Funke mendapat penjelasan detail bagaimana orang dulu mengapitkan kurban yang harus dibunuh dengan leher di antara kedua paha "batu yang terbelah" ini yang kemudian kepalanya disembelih. Tidaklah begitu penting penjelasan ini sesuai kenyataan. Tradisi itu tentu saja tidak memiliki dasar.

Jika proses penyembelihan kurban ternyata terjadi secara demikian, maka kami ingin berada di sini dan di prosesi kurban darah manusia oleh Orang Abung. Korelasi faktual antara megalit di Kenali dan ritual piala kepala tentu saja dibuktikan dengan tradisi tersebut.

Tradisi yang sangat kejam ini, musuh yang tertangkap, diiris telinganya untuk kemudian dijadikan piala ditemukan di berbagai belahan dunia dan di semua zaman. Dalam lingkup bangsa pemburu kepala di daerah hutan hujan di Asia Tenggara, hal ini tentu saja peristiwa satu-satunya. Funke memandang berita itu sebagai tambahan untuk kelompok Paminggir yang berpindah.

Tempat kurban kedua di Kenali, batu Kenjangan, sebelumnya telah dikunjungi Van der Hoop. Ia masih mendapatkan informasi dari satu generasi sebelum kedatangan Funke tentang detail tradisi penduduk asli Kenali mengenai tempat pengurbanan itu. Berdasarkan keterangan tersebut, dahulu setiap tahunnya seorang gadis dibunuh pada menhir tersebut. Tenggorokannya dipotong. Batu ubin tersebut digunakan sebagai tempat duduk para hadirin.

Sejauh ini, keterangan tersebut begitu bermanfaat. Perincian lebih mendalam menyatakan batu menhir yang lebih kecil digunakan sebagai batu pemotong untuk pisau kurban.

Apa yang ditulis Van der Hoop tentang asal tempat pengurbanan sangat kontradiktif. Pernah ia mengatakan bahwa orang-orang Kenali menceritakan padanya, masih nenek moyang mereka sendiri yang melakukan kurban serupa di sana pada empat generasi lalu. Kemudian, pada waktu bersamaan ia menceritakan nama batu Kenjangan berasal dari sebuah suku dan bangsa yang dahulu tinggal di sana dan membangun batu tersebut.

Beralih pada cerita selanjutnya tentang perburuan kepala orang Abung lama, pada penjelasan pertanyaan asal daerah asal seluruh orang Abung telah menjadi pembicaraan keseluruhan bangsa yang harus meninggalkan wilayahnya di pegunungan. Bahasan kelompok selatan yang daerahnya di antara gunung api Tanggamus, Rindingan, dan hulu Way Sekampung. Abung Selatan ini didesak penduduk Semaka pada sekitar 1760 dari wilayah Tanggamus untuk bersatu dengan suku-suku yang terkait di dataran timur. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR