SELAIN menhir dan batu ubin, masih terdapat bahasan mengenai kejadian khusus pada batu Kepangpang di Kenali dan batu Sesat di Pekurun. Batu Sesat, batu perayaan, merupakan bongkahan batu yang sama sekali tidak memiliki jejak pengerjaan manusia.

Mungkin, permukaan atasnya dulu rata dan kini tak lagi diketahui jika terbentuk celah karena masuknya tanaman kecil dan akar semak-semak ke dalamnya. Batu tersebut berbentuk balok batu besar dalam bentuk alami dari ciri-ciri dan ukurannya digunakan sebagai objek pemujaan.



Batu Kepangpang, yaitu batu terbelah. Terdiri atas beberapa objek tunggal. Batu pendampingnya berukuran lebih kecil, disebut sebagai miniatur menhir karena bentuknya. Batu yang memiliki tinggi 80 sentimeter ini sajalah yang merupakan menhir yang wajar karena ukuran dan bentuknya, seperti pada kelompok pertama.

Tentu saja karena bentuknya yang unik, batu terbelah ini memiliki arti penting. Oleh karena itu, apakah batu ini dulunya digunakan sebagai batu pengurbanan, kini tentu saja tidak lagi dapat dibuktikan. Namun, tradisi tersebut menyatakan demikian.

Batu berbentuk balok yang lebih kecil di samping batu kurban dapat dikatakan sebagai menhir yang dipotong atau semacam altar batu. Jika boleh mempercayai dari tradisinya, tidak diragukan lagi, demikian kurban darah dilaksanakan pada batu terbelah, tempat tenggorokan kurban dipotong. Kepala yang disembelih kemudian mungkin diletakkan pada batu rata di sampingnya.

Batu Begerak memiliki ukuran besar diperkirakan menurut bentuknya, berfungsi serupa batu pendamping kecil yang disebutkan sebelumnya, batu Kepangpang.

Dengan ini kita tahu makna dari megalit tersebut. Dalam perkara batu Kepangpang, batu ini digunakan untuk kurban darah menjadi kelas seperti pada batu Kenjangan. Di sini, kedekatan hubungan antara batu dan ritual kesuburan menjadi sangat jelas.

Pada batu Kepangpang, berdasarkan tradisi, kepala-kepala dipotong untuk kurban. Tidak terjadi pemotongan sebenarnya seperti pada adat bangsa pemburu kepala. Berdasarkan tradisi, di sini kepala korban dijepit di antara kedua paha batu. Karenanya penyembelihan yang sebenarnya adalah kurban darah. Kurban darah tersebut akrab di telinga bangsa petani di Asia Tenggara.

Di batu Kenjangan yang terdiri atas tiga objek tunggal, satu batu ubin besar dan dua menhir, menurut tradisi, dilakukan kurban darah. Di sini, ritual kesuburan tampak paling jelas. Kurbannya adalah seorang gadis paling cantik.

Penekanan cantik di sini artinya tentu saja sebuah petunjuk terhadap usia perempuan muda, dikatakan lebih jelas yaitu wanita yang berusia muda. Potensi yang belum digunakan disatukan dengan tanah. Kurban tersebut disandarkan pada menhir besar atau diikat dan di sana tenggorokannya dipotong.

Makna menhir sebagai simbol penis tidak diperlukan lagi. Begitu saja maknanya sudah cukup jelas. Namun, cara pembunuhan ini menunjukkan bahwa kita harus melihat pembawa kesuburan di dalam darah.

Saat orang Abung membahas penyembelihan kerbau untuk pesta rakyatnya, maka dapat dikenali pada tradisi batu Kepangpang dan batu Kenjangan di Kenali, bahwa dulunya ada perbedaan antara darah manusia dan darah kerbau.

Dapat disimpulkan demikian bahwa kurban darah manusia ada lebih awal dan baru di zaman modern ketika perubahan kondisi kehidupan di daerah dataran rendah membuat perburuan kepala dan ritual pembunuhan manusia menjadi mustahil dan diganti dengan kurban kerbau. Namun, bentuk darah ini masih ada hingga sekarang pada pesta papadon dalam bentuk penyembelihan kerbau. 

 

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR