JAKARTA (Lampost.co)-- Banyak keluarga di Inggris melakukan detoks digital selama musim panas karena cemas melihat anak-anak mereka terlalu sering menghabiskan waktu bermain gawai. 

Meskipun ponsel dan tablet adalah salah satu cara baik untuk membuat si kecil anteng, kini para orang tua mulai khawatir terhadap perkembangan anak jika terlalu sering terpapar gawai. 
Tak hanya ponsel, umumnya rumah tangga bisa memiliki tujuh perangkat yang berbeda dengan durasi penggunaan sekitar sembilan jam dan 28 menit sehari di layar secara kolektif.
Empat dari 10 keluarga tampaknya membatasi penggunaan gawai karena mereka merasa tidak menghabiskan cukup banyak waktu bersama.



Namun, penelitian terhadap 2.000 orang tua tersebut menemukan bahwa sementara dua dari lima sebelumnya telah mencoba detoks digital, hanya setengah yang sukses melakukannya. 

"Teknologi telah mengubah kehidupan keluarga selama bertahun-tahun. Kami dapat tetap berhubungan dengan jarak yang jauh, mengkoordinasikan buku harian kami, meneliti pekerjaan rumah, dan tentu saja, menonton TV dan video ketika kami ingin,"kata Liam Howley, direktur pemasaran di musicMagpie, yang melakukan penelitian.

Namun, tambahnya, studi tersebut menemukan bahwa banyak orang tua khawatir tentang jumlah waktu yang dihabiskan anak-anak mereka saat bermain gawai. 

"Membatasi penggunaan perangkat dan kembali ke dasar selama liburan memberi peluang untuk mencabut dan melakukan kegiatan lain sebagai gantinya."

Para partisipan mengatakan, meja makan malam adalah lokasi paling populer untuk detoks digital, dengan 58 persen orang tua menerapkan larangan pada waktu makan.

Setengah lainnya memutuskan menyita gawai saat berada di rumah, dengan 46 persen melakukannya selama makan malam di luar dan satu dari lima memberlakukan larangan tersebut saat keluarga seharian ke luar rumah. 

Sebanyak 81 persen partisipan setuju dengan aturan anak-anak harus berada di luar selama cuaca bagus daripada bermain dengan gawai di dalam ruangan. 

Sebagai akibat dari larangan teknologi mereka tersebut, 45 persen partisipan menemukan mereka telah berbicara lebih banyak sebagai keluarga dan 35 persen bahkan belajar sesuatu yang baru tentang anak-anak mereka. 

Lebih jauh lagi, tiga dari 10 anak mereka tampak bahagia berkat jauh dari gawai mereka dalam jangka lama dan empat dari 10 orang tua mengaku merasa lebih bahagia.

Namun, empat dari 10 orang tua menemukan rumah menjadi terlalu sepi setelah larangan teknologi dan hanya di bawah sepertiga dari keluarga akhirnya merasa bosan tanpa hiburan digital. 

Hampir setengah dari mereka mengaku melanggar larangan itu sendiri, menyerah pada keinginan mereka untuk menggunakan teknologi. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR