JAKARTA (Lampost.co)--Guna mengatasi problem industri yang belum mendapat suplai tenaga kerja yang sesuai kebutuhan, pemerintah tengah mengkaji apakah dunia usaha yang membantu vokasi tenaga kerja diberikan bantuan insentif fiskal pengurangan pajak.

Demikian terungkap dalam Roundtable Discussion bertajuk “Human Capital - Menjawab Tantangan Dunia Pendidikan Dalam Menghasilkan SDM yang Unggul” yang diselenggarakan dalam rangka Pre-Event Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 d Gedung Djuanda 1, Kementerian Keuangan, Rabu (12/9/2019).  



Diskusi menghadirkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Prof Suahasil Nazara. Peserta diskusi Rektor Universitas Atma Jaya Jakarta, A. Prasetyantoko,  Direktur SDM Pertamina, Kushartanto Koeswiranto, Kepala Lembaga Demografi UI, Munif Chatib, konsultan pendidikan dan penulis buku “Sekolahnya Manusia” ,  Paristiyanti Nurwardani, Direktur Pembelajaran Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti, dan Turro S Wongkaren, Kepala Lembaga Demografi UI.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Prof Suahasil Nazara. “Ini masalah lama. Karena kebutuhan industri berubah cepat, harus ada tanggung jawab industri. Lalu kami berpikir, bagi dunia usaha kalau mereka memberi skill produksi, perlu tidak sih kami beri insentif fiskal, ini yang kami pikirkan," ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Prof Suahasil Nazara.

Dia mencontohkan, Panasonic mempaunyai  inhouse training untuk  internal mereka. Jika mereka buka untuk non-internal, pihaknaaya akan memberi pengurangan pajak.
 
World Bank akan merilis ranking Human Capital Index (HCI) 2018 pada saat gelaran Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali pada 8-14 Oktober mendatang.

Indeks baru tersebut akan menjadi logika baru dalam mengukur kualitas sumber daya manusia secara global, setelah sebelumnya juga dikenal Human Development Index (HDI) dari United Nations Development Programme (UNDP).

Menurut Suahasil, mengatakan gelaran acara besar IMF-WB di Bali tersebut akan menjadi kesempatan bank Bank Dunia untuk merilis indeks acuan tersebut.

UNDP mengeluarkan  HDI yang dipakai terus sampai sekarang. Sementara Bank Dunia, sejak 2-3 tahun terakhir memikirkan logika berbeda, Human Capital Index.
"Jadi human enggak sekadar fisik, tapi dia menjadi the next capital. Nanti akan keluar ranking Indonesia yang baru untuk HCI di Bali,” kata Suahasil.

Ia mengatakan isu human capital menjadi sangat penting dan akan menjadi salah satu tema yang akan dibahas dalam side event di Annual Meeting IMF-World Bank 2018, selama 8-14 Oktober mendatang, selain isu perempuan dan digital economy. 

Sebagai catatan, akan digelar sekitar 2.000-3.000 pertemuan dalam bentuk seminar, workshop, hingga pertemuan kelompok-kelompok kecil.

Pada acara ini, Rektor Universitas Atma Jaya Jakarta, A. Prasetyantoko mengatakan ada beberapa hal yang menjadi tantangan bersama ke depan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR