JAKARTA (Lampost.co) -- Selama empat bulan pertama di 2018, Bank Bukopin berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017, yaitu dari Rp907 miliar menjadi Rp859 miliar.

Perseroan telah melakukan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan efisiensi diantaranya melalui digitalisasi Core Banking System yang berdampak pada efisiensi proses bisnis produk.



“Dengan penerapan digitalisasi Core Banking, telah terjadi migrasi transaksi dari outlet (kantor) ke electronic channel lainnya sebesar 30%, ujar Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi Adhi Brahmantya, Selasa (15/5/2018).

 

-Laba sebelum pencadangan (CKPN) per April 2018 tumbuh 33% (year-on-year).
-Fee Based Income meningkat sebesar 41% (year-on-year).
-Digitalisasi Core Banking tekan transaksi outlet sebesar 30%.
-Peningkatan efisiensi dilakukan melalui simplifikasi proses bisnis dan operasional.

Selain itu, melalui peluncuran produk digital Wokee, Bank Bukopin juga melakukan simplifikasi proses bisnis dan operasional, diantaranya dengan efisiensi dalam pembukaan tabungan, transaksi tanpa buku dan kartu ATM (cardless), Wokee merupakan produk perbankan tabungan digital Bank Bukopin. Layanan tersebut menyediakan sejumlah fitur berbasis digital, mulai dari pembukaan rekening hingga transaksi perbankan secara online.

Langkah efisiensi juga dilakukan Perseroan melalui evaluasi atas sejumlah biaya rutin perusahaan. “Melalui langkah tersebut, selama empat bulan pertama tahun ini Perseroan berhasil menekan biaya rutin. Kami menargetkan penurunan biaya rutin sebesar 10% hingga akhir tahun 2018,” jelasnya.

Selain melakukan efisiensi, Perseroan juga telah melakukan diversifikasi pendapatan secara bertahap melalui peningkatan fee based income. Upaya untuk memacu pendapatan non bunga dilakukan melalui peluncuran produk Flexy Bill (dana talangan), peningkatan volume bank garansi, transaksi public service, wealth management, serta program peningkatan usage kartu kredit.

Serangkaian langkah tersebut berdampak pada peningkatan fee based income Perseroan sebesar 41% dari Rp252 miliar per April 2017 menjadi Rp354 miliar pada April 2018. “Saat ini Bank Bukopin melayani lebih dari 12 juta pelanggan ritel setiap bulannya melalui 20.000 titik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk transaksi public service,” ujarnya.

Khusus untuk Flexy Bill yang baru diluncurkan Maret lalu untuk melayani kebutuhan nasabah dari kalangan usaha produktif, Adhi mengungkapkan sejauh ini layanan tersebut telah mendapat respon positif dari nasabah. Flexy Bill merupakan produk dana talangan tagihan public service untuk segmen kalangan usaha produktif, diantaranya pada sektor manufaktur dan jasa.

Sebagai dampak dari penurunan biaya operasional dan peningkatan fee based income, hingga April 2018 telah terjadi peningkatan laba sebelum CKPN Perseroan sebesar 33% (year-on-year), yaitu dari Rp268 miliar pada April 2017 menjadi Rp355 miliar per April 2018.

 

Tentang Bank Bukopin

Bank Umum Koperasi Indonesia (Bukopin) berdiri pada 10 Juli 1970. Pada 1989 nama Bukopin resmi berganti menjadi Bank Bukopin. Pada 2006 Perseroan melakukan IPO dan sejak saat itu menjadi perusahaan terbuka. Bank Bukopin terus tumbuh dan berkembang hingga masuk ke dalam kelompok bank menengah di Indonesia. Bank Bukopin merupakan bank yang fokus pada segmen ritel, yang terdiri dari segmen Mikro, UKM, dan Konsumer serta didukung oleh segmen Komersial.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan teknologi finansial, Bank Bukopin terus melakukan modernisasi infrastruktur TI serta menyiapkan beragam produk dan layanan berbasis perbankan digital seperti aplikasi Bukopin Mobile, B Wallet, dan tabungan digital Wokee. Pada tahun 2017, Perseroan mendirikan BNV Labs untuk mendorong pertumbuhan start up bidang fintech di Tanah Air.

Hingga 30 April 2018, Bank Bukopin beroperasi di 23 provinsi, memiliki 43 kantor cabang utama, 175 kantor cabang pembantu, 103 kantor kas, 22 kantor fungsional (layanan mikro), 21 payment point, 8 layanan pickup service, serta didukung oleh lebih dari 31.000 unit PPOB (Payment Point Online Bukopin). Seluruh kantor Bank Bukopin telah terhubung dalam satu jaringan real time online. Untuk mendukung layanan ke nasabah, Bank Bukopin juga mengoperasikan 865 mesin ATM. Kartu ATM Bukopin terkoneksi dengan seluruh jaringan ATM BCA Prima, ATM Bersama dan Plus di seluruh Tanah Air.

Saham Bank Bukopin dimiliki oleh Bosowa Corporindo (30,00%), Kopelindo (18,09%), Negara RI (11,43%), dan Publik (40,48%). Sesuai dengan moto ‘Memahami dan Memberi Solusi’, Bank Bukopin senantiasa melakukan inovasi dan peningkatan layanan kepada para nasabahnya.

 

PENULIS

Rilis Bank Bukopin

TAGS


KOMENTAR