PERJUANGAN panjang menjadikan Bandara Gatot Subroto dari pangkalan udara TNI Angkatan Darat menjadi bandara komersial membuahkan hasil. Pada Sabtu, 6 April 2019, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah meresmikan bandara kebanggaan masyarakat Lampung, khususnya Way Kanan ini.

Peresmian ini membayar lelah semua pihak terlibat. Namun, perjuangan tidak sampai di sini saja. Keberadaan terminal transportasi udara komersial ini harus diimbangi dengan peningkatan fasilitasnya. Dengan begitu, keberadaannya dirasakan masyarakat. 



Banyak fasilitas yang harus dilengkapi sesuai dengan standar dari Kemenhub. Perlu upaya serius dari pemerintah daerah. Termasuk melakukan lobi-lobi menjemput kue anggaran dari Pemerintah Pusat. Sebab, keuangan daerah sudah pasti tak mampu menanggungnya. Upaya ini jelas membutuhkan energi ekstra.

Mengingat saat ini luas Bandara Gatot Subroto baru 300 meter persegi. Diperlukan revitalisasi penataan ulang interior, ruang tunggu terminal untuk 80 penumpang. Publik berharap Menhub dapat merealisasikan komitmen agar landas pacu diperpanjang menjadi 2.400 meter.

Bandara Gatot Subroto merupakan yang keempat di Lampung. Dari sisi transportasi, keberadaannya diharapkan dapat melancarkan konektivitas arus penumpang, pengusaha dari Way Kanan, Lampung Utara, Lampung Barat, Tulangbawang, dan Tulangbawang Barat.

Termasuk dari Sumatera Selatan di antaranya Martapura, Baturaja, OKI/OKU dan lainnya. Bukan hanya untuk penumpang, keberadaannya juga diharapkan mampu mempermudah arus keluar masuk pengiriman paket barang.

Ada hal-lain yang tak kalah penting. Bandar Gatot Subroto dapat mempermudah kelancaran distribusi logistik. Terutama di saat menghadapi bencana karena Lampung termasuk daerah cincin api rawan bencana.

Bandara ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan strategis pertahanan dan keamanan nasional. Dengan begitu, akan lebih cepat mengirimkan pasukan dari batalion di luar Lampung jika ada gangguan keamanan yang sangat serius.

Dari sektor ekonomi, keberadaan Bandara Gatot Subroto ini menjadi tonggak awal memacu percepatan pembangunan dan ekonomi di Kabupaten Way Kanan. Masyarakat sekitar mesti memperoleh manfaat ekonomis. Keberadaan UKM harus tumbuh di sekitar bandara.

Untuk menuju itu semua, penguatan akses transportasi harus diiringi inovasi guna mengatasi ketimpangan antarwilayah. Pemerintah harus berupaya mencari skema terbaik dan turut membuka peran keterlibatan swasta.

Sebab, bagaimanapun juga transportasi merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Hal itu mengingat kondisi geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari perairan dan pegunungan. Arus konektivitas yang lancar pun berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 7% pada 2019.

Selain Bandara Gatot Subroto, masih ada bandara yang perlu diresmikan secepatnya, yaitu bandara Taufik Kiemas di Pesisir Barat. Dengan begitu, target kemajuan di semua lini dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bukan hanya mimpi di siang bolong, melainkan suatu keniscayaan. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR