KOTA cerdas atau smart city kini menjadi salah satu program yang pantas untuk dijual. Sebab, smart city menawarkan layanan prima pemerintah dengan memaksimalkan teknologi informasi, sehingga akan memberi ruang transparansi dalam layanan publik. Bahkan, kini pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membuat gebrakan dengan Gerakan Menuju 100 Smart City dari total 514 kabupaten/kota se-Indonesia.

Kementerian ini mengajak kerja sama Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PU-Pera, Bappenas, dan kantor staf kepresidenan. Tujuannya, membimbing kabupaten/kota dalam menyusun rencana induk atau masterplan kota cerdas untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi, pelayanan publik, hingga pemetaan potensi daerah.



Tahap awal, pembangunan smart city difokuskan pada 24 kota dengan tolok ukurnya ketersediaan ruang fiskalnya, dengan akan disisihkan 20% dari belanja rutin APBD untuk belanja barang penunjang smart city. Dari sejumlah daerah, Bandar Lampung menjadi salah satu yang bersiap mewujudkan smart city. Pemerintah di Kota Tapis Berseri ini mulai mengembangkan website yang memudahkan interaksi warga hingga organisasi perangkat daerah guna mewujudkan keterbukaan informasi publik.

Program ini juga merupakan saran dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Untuk mewujudkan hal itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bandar Lampung menggandeng Telecom Energie merancang cetak biru atau blue print smart city. Laman milik Pemkot itu nantinya dapat mengakses seluruh informasi layanan publik, termasuk menjadi panduan bagi pendatang atau turis yang baru pertama datang ke kota ini. Wisatawan bisa mengakses informasi sehingga memudahkan mereka untuk mengetahui destinasi menarik.

Selain itu, akan ada aplikasi bagi warga kota untuk bisa langsung menyampaikan keluhan lewat website. Sosialisasi program juga bisa dilakukan sehingga mempermudah penyampaian keterbukaan informasi. Namun, layanan smart city tidak sebatas memberi informasi pembangunan ke masyarakat dan menerima keluhan atas layanan itu. Konsep smart city menurut Kemenkominfo juga harus menghadirkan lingkungan lebih lestari dengan pengaturan limbah dan pengelolaan air yang lebih maju.

Konsep smart city menjadikan kota mempunyai daya tarik kuat untuk orang berkunjung baik sebagai wisatawan ataupun investor. Jangan sampai smart city yang gaungnya sudah bunyi sejak lama hanya program jualan politik. Kita tidak ingin program yang terdengar bagus ini hanya menghabiskan anggaran publik yang ditaksir sekitar Rp6 miliar.

Pada tahap awal akan dialokasikan dalam APBD perubahan 2019. Publik memiliki harapan besar bahwa Bandar Lampung akan menjadi kota cerdas dengan gambaran semua pelayanan hanya sekali tekan tombol melalui ponsel pintar. Pemkot harus memiliki komitmen kuat untuk benar-benar merealisasikan smart city sehingga ibu kota Bumi Ruwa Jurai ini sejajar dengan kota besar lainnya.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR