PERDEBATAN tentang susu kental manis (SKM) yang tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi anak-anak, tidak lain adalah karena kadar gula dalam produk tersebut yang dianggap tinggi. Padahal, konsumsi gula berlebihan pada anak bisa menimbulkan risiko kesehatan hingga dewasa.

Ketua Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) Fresia Nababan memaparkan SKM merupakan produk turunan susu dengan kadar gula yang tinggi. Fresia menyebut sesuai standard nasional indonesia (SNI) SKM tercatat sebagai produk susu berbentuk kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari susu segar atau hasil rekonstitusi susu bubuk berlemak penuh yang telah ditambah gula. Kandungan gula pada SKM menurut ketentuan SNI adalah 43—48%.



"Jadi, SKM sama sekali tidak bisa ditempatkan sejajar dengan susu sebagaimana dipahami masyarakat secara umum selama ini," kata Fresia, beberapa waktu lalu.

Mengonsumsi minuman dengan kadar gula sangat tinggi seperti SKM, menurut Fresia, menjadi indikator asupan makanan yang buruk bagi anak-anak. Sebab, anak akan mendapat asupan kalori yang tinggi, sementara kalori yang didapat dari gula sangat rendah akan gizi. Akibatnya, anak bisa mengalami kenaikan berat badan yang tidak sehat.

Fresia menekankan tingginya kadar gula pada SKM membuat produk SKM tidak sehat untuk dikonsumsi, terutama oleh balita, anak-anak, dan remaja karena akan berisiko mengalami kerusakan gigi, obesitas, dan penyakit degeneratif yang terbawa sampai dewasa.

"Selain itu, konsumsi minuman berpemanis juga meningkatkan risiko karies gigi yang berakibat meningkatnya kesakitan pada anak, kecemasan, hingga rendahnya pencapaian akademik," ujarnya.

 

Sumber Gizi

Menurut Fresia, dibanding harus mengonsumsi SKM, masyarakat perlu diedukasi untuk mencari sumber gizi lain. Sebab, untuk mencukupi gizi anak-anak tidak harus melalui susu.

"Ada makanan lain yang memiliki gizi sama dengan susu, tetapi pasokannya jauh lebih berlimpah untuk mencukupi kebutuhan seluruh anak di Indonesia. Makanan tersebut tidak lain adalah ikan,” kata Fresia.

Menurut dia, hal itu lebih realistis dan bisa terus dipromosikan ke masyarakat.

Sebelumnya, Ketua Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Damayanti Rusli Sjarif mengatakan persoalan susu kental manis bukan pada produknya, melainkan bagaimana produk tersebut digunakan.

Damayanti menyebut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan tidak memberikan minuman berwarna pada anak-anak. Anak lebih baik diberikan air putih dan buah. Hal ini untuk mencegah asupan gula berlebih pada anak.

Berdasarkan batasan gula yang ditetapkan WHO pada 2015, penggunaan gula tambahan kepada anak hanya diizinkan maksimal 10% dari total kalori.

"Produk SKM bukanlah susu. Oleh karena itu, perlu dikaji ulang regulasinya, terutama mengenai iklan dan promosi, jangan sampai masyarakat berasumsi ini adalah susu," kata Damayanti. 

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR