FARHAN mempunyai kemampuan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan anak yang lainnya. Obrolan saya dengan Farhan tahun lalu mestinya menjadi pelajaran berharga bagi kita.

Dia adalah warga keturunan Minang, Sumatera Barat. Yang unik dari Farhan adalah dia punya kebiasaan berbahasa yang berbeda-beda di tiap anggota keluarga. Misalnya, Farhan berbicara dengan ibu berbahasa Minang dan ayah berbahasa Minang lain dialek dengan si ibu.



Kalau bercengkerama dengan nenek, ia memakai bahasa Arab atau Minang. Sebagian lagi, Farhan berbicara berbahasa inggris saat menjadi pemandu wisata di Padang. Tentunya di sekolah ia berbahasa Indonesia dan bahasa Minang apabila mengobrol dengan kawan.

Dari pengalamannya, otaknya telah terlatih melalui berbagai bahasa. Ia pahami dengan istilah autolinguistik. Saya pikir, apa yang dialami Farhan tidak terjadi pada sedikit orang.

Yang perlu ditekankan yaitu penggunaan bahasa ibu. Bahasa ibu menjadi bahasa awal yang didapat oleh anak dari orang tuanya sewaktu kecil. Anak-anak yang memiliki bahasa ibu selain bahasa indonesia alias memiliki bahasa daerah cukup beruntung.

Ahli bahasa pernah meneliti transfer bahasa daerah ibu kepada anaknya selain bahasa Indonesia berpeluang bagi sang anak untuk bisa memahami dengan cepat 17 bahasa lainnya di dunia. Tentunya, semua itu dapat dilakukan melalui belajar.

Farhan juga saya lihat belajar keras memahami sebuah bahasa melalui aplikasi yang ia unduh di ponsel pintar.

Kepala Balai Bahasa Lampung Yanti Riswara juga pernah mengatakan para orang tua jangan takut untuk mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya. Walaupun kedua orang tua memiliki latar belakang bahasa yang berbeda, ajarkan saja kedua bahasa itu kepada anak.

Untuk penguasaan bahasa Indonesia, lanjut dia, si anak akan memperolehnya di lingkungan pergaulan dan lingkungan sekolahnya.

Kalaupun ingin si anak dilatih berbahasa Indonesia sejak kecil, Yanti mengimbau orang tua untuk totalitas menggunakan bahasa yang benar. “Jangan dicadel-cadelkan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Sungguh menakjubkan otak manusia. Seandainya hal ini diterapkan di semua anak, kekayaan bahasa pada dirinya akan melekat sampai dewasa. Bahasa daerah ini perlu menjadi perhatian serius.

Bahkan, di mesin pencari daring, pendeteksian bahasa daerah seperti bahasa jawa sudah bisa dinikmati bagi warga keturunan lain selain Jawa.

Seandainya banyak warga Lampung yang tidak malu dan terus percaya diri dengan bahasa Lampungnya, bukan tidak mungkin bahasa Lampung pula bisa ada di mesin pencari daring. Jangan sampai bahasa daerah yang menjadi warisan budaya sampai punah di tengah modernisasi teknologi yang makin tumbuh pesat. Tabik!

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR