BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kelompok pengeluaran bahan makanan mengalami deflasi sebesar 2,20% di bulan September 2018 ini. Angka itu menjadi penyumbang terbesar dalam andil deflasi kota Bandar Lampung sebesar 0,20%. Hal itu pun merupakan nilai penurunan harga terbesar secaa umum sepanjang tahun ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Yeane Irmaningrum menjelaskan diakhir triwulan III ini kota Bandar Lampung mengalami deflasi sebesar 0,20% dengan adanya penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 134,63 pada Agustus mebjadi 134,36 pada September.



Hanya terdapat dua kelompok pengeluaran utama yang terjadi deflasi bulan ini, yaitu bahan makanan sebesar 2,20% dan transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02%. Namun, penurunan harga pada bahan makanan itu membuat deflasi secara keseluruhan.

"Ada lima kelompok yang terjadi inflasi, yaiti makanan jadi  minuman, rokok, dan tembakau sebesar 1,04%, sektor perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,04%, sandang sebesar 0,24%, kesehatan 1,49%, pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,88%," kata Yeane dikantor BPS, Senin (1/10/2018).

Secara khusus, lanjutnya, deflasi kelompok bahan makanan itu dikarenakan turunnya harga beberapa komoditi pada bumbu-bumbuan sebesar 10,62%, sayuran 9,50%, dagin 2,66%, telur dan susu 1,35%, ikan segar 0,26%, bahan makanan lainnya 0,21%, dan kacang-kacangan 0,08%.

Kelompok yang dominan memicu deflasi itu disumbangkan dari cabai merah, tomat, sayur, cung kediro, daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, timun, bawang putih, cumi-cumi, dan kangkung. Namun, ada pula dikelompok ini yang mengalami inflasi, seperti padi, umbi-umbian sebesar 2,49%, buah-buah 0,47%, lemak dan minyak 0,15%, dan ikan yang diawetkan sebesar 0,06%.

"Perubahan harga ini bergantung pada permintaan dan penawaran. Memang saat ini distribusinya bagus, berbagai komoditas sedang memasuki musim panennya, sehingga komoditas dipasaran pun nelimpah," ujarnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR