PEMILIHAN umum atau pemilu sering disebut juga pesta demokrasi, sebab seluruh rakyat diajak untuk keluar rumah dan silaturahmi. Dalam momentum itu, yang terutama adalah memberikan hak yang telah dijamin dalam konstitusi.

"Iya, pesta demokrasi, yang menggelar pemerintah dan yang ikut bergembira adalah rakyat. Jadi ya nanti semua keluar untuk pesta itu," kata Kacung kepada Inem sesaat nonton bareng (nobar) keluarga majikannya, malam minggu kemarin.



Inem pun singut, langsung menjawab. "Alah, Bang, tapi yang majikan itu enggak usah mekso-mekso harus nobar," kata Inem. "Aku ini dah ngantuik, malah disuruh nonton, huh!"

Kacung berusaha menjelaskan ke Inem bahwa kalau nobar keluarga majikan itu, bukan termasuk pesta demokrasi. "Itu cuma majikan minta kawani nonton. Tapi, nanti hari Rabu 17 April 2019 ya ke TPS. Dang sampai mawat!" kata Kacung.

"Sebab, satu suara akan menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan," Kacung menirukan iklan di televisi majikannya.

Sembari muka tetap masam, Inem terus bersuara lantang. "Loh, kalau saya enggak mau ikut ngopo? Emange arep dipekso-pekso," kata Inem. "Lebih baik tidur aja saya."

"Waduh, Nem, api ngebani? Sampean kok enggak mau ikut ke TPS, ngasih pilihan," kata Kacung. "Emangnya enggak ada apa dari ribuan calon pemimpin kita itu yang kamu senangi atau bahkan kamu benci sekali?"

"Lo, emang ngopo? Milih kok karena senang atau benci. Kita milih itu karena latar belakang mereka dan visi ke depan," kata Inem. "Kalau disenangi, okelah dipilih. Tapi, kalau karena benci, enggak masuk akal."

"Lo, kalau kamu sangat benci sama calonnya kan pas pemilu itu kesempatan untuk merusak mukanya dengan dicoblos," kata Kacung. "Tapi ya tetep lah, Nem, kita harus ke TPS. Rugi tau kalau enggak ikut," kata Kacung kepada koleganya itu.

"Lah, enggak, lagian satu suara saya tidak berpengaruh apa pun. Lagian sekarang juga masih tren golput yakni golongan putih yang tidak mau memilih. Saya golput sajalah, biar bersih," kata pembantu yang sudah lama bersahabat dengan Kacung itu. "Golput itu juga pilihan, Bang!"

"Waduh, Nem, terbolak-balik ini. Satu suara itu menentukan. Kalau waktu penghitungan kebetulan sama-sama ngena 100, kalau ada suaramu kan jadi ada yang dapat 101," katanya. "Lagian pemilu itu pesta demokrasi yang biayanya dari uang yang dikumpulkan dari kita juga. Masa pestanya, orang-orang pada riang, kita tidak ikut. Rugi! Masalah pilihan, tesekhah di niku." Bismillah...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR