JUDUL itu saya ambil dari ajakan anak-anak pada saat mereka bermain gembira sore hari di halaman Istana Merdeka dan mengajak Presiden Jokowi untuk bermain bersama: "Pak Jokowi, main yuk!"

Mengapa sampai anak-anak berani mengajak Presiden bermain bersama? Ini simbol kerinduan anak-anak di seluruh Tanah Air untuk dapat bermain bersama orang tua di rumah maupun guru-guru di sekolah. Bermain gembira di luar ruang pada anak tampaknya memang mulai banyak dilupakan. Dampaknya, anak lebih lekat ke gawai yang membuat mereka menjadi kurang bergerak dan kurang bersosialisasi.



Sebetulnya, berapa jam yang dihabiskan anak-anak zaman now untuk bermain di tempat terbuka? Survei yang dilakukan National Trust dua tahun lalu menyimpulkan rerata 4 jam per pekan, sedangkan orang dewasa umumnya bermain di luar rumah semasa kecil hingga 8 jam lebih setiap minggunya.

Bila penjelasan orang tua tentang penyebab minimnya anak-anak mereka menemukan keasyikan di luar rumah disimak, jawaban mereka sebagian tipikal dari masa ke masa dan sebagian lagi khas era kekinian. Misalnya, khawatir anak terkena cacingan, cuaca yang kurang mendukung, kemajuan teknologi internet, dsb.

Lepas dari faktor-faktor yang menjadi batu sandungan bagi anak untuk bermain di luar, seberapa jauh sebetulnya orang tua patut mengalokasikan waktu untuk bercengkerama bersama buah hati mereka? Sekian banyak sigi menemukan angkanya pada kisaran 50% dari ribuan orang tua yang diteliti.

Juga sungguh menyedihkan, adanya bentuk perlakuan diskriminatif bahkan terlihat pada aktivitas bermain dan anak. Anak perempuan diketahui lebih jarang bermain di luar ruangan. Ini jelas kontras dengan hakikat bermain sebagai hak dasar anak. Bahkan, UU Sistem Peradilan Pidana Anak pun memuat hak rekreasional sebagai salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan bagi anak-anak dalam lembaga pemasyarakatan.

Pentingnya Aktivitas Fisik

Jadi, sempurna sudah! Faktor penarik kurang memadai, faktor pendorong pun pas-pasan belaka. Pantas bila akhirnya anak-anak lebih lekat dengan gawai yang di dalamnya tersedia aneka permainan daring. Padahal, cukup banyak studi yang merekomendasikan pentingnya aktivitas bermain fisik di alam terbuka bagi anak. Mayo Clinic, misalnya, menyarankan anak (bersama orang tua) menikmati kegiatan di tanah lapang selama 1 hingga 1,5 jam setiap harinya.

Begitu pula The American Academy of Pediatrics yang menyebut permainan jasmani di lingkungan terbuka bermanfaat bagi kesehatan mental dan perkembangan psikososial anak. Kegiatan outdoor selama 30 menit, menurut University of Illinois, membantu anak dengan gangguan perhatian dan hiperaktivitas menjadi lebih berkonsentrasi di sekolah serta lebih tenang di rumah.

Kurangnya waktu anak untuk bermain di alam terbuka memunculkan gambaran karikatural tentang sosok anak-anak masa depan. Mereka menyerupai makhluk yang disebut datang dari tata surya lain: jari-jemari panjang karena sibuk menekan layar sentuh, mata yang membesar karena terus terpapar cahaya, ukuran badan yang menyusut karena jarang digerakkan.

Lalu, mulut yang mengecil karena lebih intens berkomunikasi dengan teks dan tempurung kepala yang menggelembung karena kerja otak yang semakin berat. Jangan-jangan alien di film-film sci-fi ialah tampilan lahiriah anak-cucu kita sekian puluh atau ratusan tahun ke depan. Mereka seolah menjelma dengan raga sedemikian rupa karena semakin berjarak dari alam terbuka!

Mungkin teori-teori perkembangan dalam psikologi pun kelak terpaksa harus dibongkar. Sejak dulu hingga kini teman sebaya dianggap sebagai tokoh signifikan kehidupan anak-anak usia pra dan saat sekolah. Namun, karena teman virtual yang anak-anak kenal lewat game daring tidak lagi sebaya, suasana batiniah mereka pun mungkin hanya berbeda tipis dengan individu berusia di atas usia mereka.

Sosok Inspirasi

Mungkin saya terkesan kolot karena terlalu khawatir akan dampak dari anak-anak yang terlalu akrab dengan gawai. Namun, di tengah kerisauan ini, saya akhirnya menemukan tokoh-tokoh yang menjanjikan untuk mengampanyekan kembali jam main anak. Tentu bukan bermain game daring, melainkan bercanda ria di alam bebas.

Beberapa figur itu antara lain Pak Jokowi yang menikmati kegiatan bermain gobak sodor, engklek, dan kuda lumping bersama ratusan anak-anak. Beliau mendukung inisiasi LPAI untuk menyelenggarakan peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini dalam kemasan Presiden dan para Menteri bermain permainan tradisional bersama dengan anak-anak di Istana Merdeka pada 4 Mei.

Selain Pak Jokowi, ada Pak Baharudin Djafar, jenderal polisi, yang lewat foto-fotonya saya lihat basah kuyup bermain basah-basahan dengan anak-anak di wilayah beliau bertugas. Kesenangan Pak Bahar sepatutnya menginspirasi, khususnya para personel Polri yang bertugas di unit perlindungan anak, untuk juga bekerja sambil bercanda-ria bersama para bocah, sesuai dengan program Polisi Sahabat Anak.

Bukankah polisi tidak sebatas penegak hukum yang menangani kasus, melainkan juga sebagai pelayan dan pengayom masyarakat? Konsekuensinya, masuk akal apabila pelayan dan pengayom di unit perlindungan anak mempunyai kesibukan khas dengan lebih sering bercengkerama bersama anak-anak pula. Ini tidak perlu harus selalu menunggu sampai terjadi perkara hukum. Ada pula Pak Sandiaga Uno yang sejak sebelum hingga saat menjabat wakil gubernur DKI Jakarta yang konsisten menggalakkan kegiatan lari sehat.

Bermain bersama anak-anak di alam terbuka tidak semata mencari sehat badaniah. Lewat aktivitas berlari, melompat, berteriak, memanjat, dst secara psikologis kegiatan itu akan meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan pada diri anak. Selain memiliki fungsi terapi, sisi lain juga mendorong berbagai aspek perkembangan jiwa anak, seperti kognitif, emosi, psikososial, bahasa, moral, dan kreativitas.

Lewat kegiatan bersama ini, selain orang tua dapat mendekatkan kembali anak-anak ke alam, sekaligus dapat membangkitkan nostalgia permainan tradisional yang seolah punah digerus gawai. Memang, sebagaimana keluhan para orang tua tersebut, kebutuhan akan tempat terbuka yang ramah-anak, aman, sehat, dan berbasis alam sudah menjadi persoalan tersendiri saat ini. Namun, saya tetap berharap pemerintah di setiap daerah dapat menyediakan fasilitas ini.

Sungguh indah andai salah satu kriteria kota dan kabupaten ramah anak di setiap provinsi ialah tersedia arena luas untuk bermain bersama, termasuk kawasan-kawasan wisata alam yang bisa dibuka secara cuma-cuma bagi para pengunjung cilik.

Presiden dan para menteri sudah mulai, juga jenderal polisi serta wakil gubernur. Mudah-mudahan, berikutnya ialah bupati, wali kota, camat, lurah, dst. Semua adalah para tokoh pemimpin yang peduli dan patut menjadi model bagi pembentukan karakter generasi anak-anak di Tanah Air. Masalahnya, bagaimana dengan para guru di sekolah dan para orang tua sendiri di rumah? Mari dengarkan suara nyaring anak-anak, "Ayah, bunda, main yuk!" Semoga.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR