LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 16 June
6619
Kategori Opini

Tags

LAMPUNG POST | Asketisme Juni dan Ramadan
Ilustrasi Ramadan. Dok. Lampost.co

Asketisme Juni dan Ramadan

SETETES embun turun di selatan Filipina, menyejukkan udara yang pengap akibat kuatnya aroma mesiu dan debu pertempuran akibat mesin perang yang menyalak di antara serdadu pemerintah versus kelompok Maute setelah lebih dari dua pekan ini. Betapa tidak, sementara menyeruak kembali ujaran kebencian dalam sebuah papan reklame dari Kota Indiana nun jauh di Amerika Serikat terhadap Nabi Muhammad saw, seorang pemuka suku muslim dari selatan Filipina disambut bak pahlawan setelah berhasil menyelamatkan 64 warga Kristen dari represi kalangan loyalis ISIS, di Kota Marawi, Pulau Mindanao.
Adalah tuan Norodin Alonto Lucman, sang penyelamat itu, telah menjadikan diri dan rumahnya sebagai tameng penyelamat sekaligus “selter” bagi warga Kristen, dengan mengatakan, “Saya ingin tak ada apa pun yang terjadi terhadap mereka, para militan hanya akan bisa menangkap pengungsi ini jika telah terlebih dahulu melewati jasad saya." Banyak pihak terharu dan simpati kepada beliau, setelah berhasil menyelamatkan warga Kristen melewati barikade militan Maute, dengan siasat bendera putih dan teriakan takbir.
Deskripsi atas dua peristiwa yang kontras ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan secara picik fenomena kemanusiaan berdasarkan an-sich konteks tempat (Barat versus Timur) dan pihak yang terlibat (antagonis versus protagonis) semata. Namun, lebih merupakan upaya kecil untuk mengajak dunia tanpa tirai hari ini, untuk segera melakukan segala langkah nyata mencegah makin tergerusnya akhlaqul azimah (budi pekerti nan adiluhung) dari peradaban manusia (yang mengaku) supramodern.
Dekade akhir ini memang diwarnai oleh munculnya pikir, paham, dan tindakan ekstrim (terlalu alias lebay) yang eskalatif, dengan modus yang makin beragam dan sebaran yang nyaris merata. Hanya tersisa sangat sedikit tempat yang aman di muka bumi kini. Saya yang sangat lemah pemahaman ini hendak mengajak sanak-puak-saudara untuk sejenak singgah pada peringatan Yang Mulia Nabi Muhammad saw, bahwa akhir zaman akan ditandai banyak munculnya paham, bahasa, dan perilaku “terlalu” dari sebagian anak Adam. Sebagian mereka keterlaluan berpikir dan bertindak, justru dalam konteks keyakinan atau atas nama keyakinan, baik karena motif puritanisme, ekslusivisme, atau agresivisme.
Mari merenungkan kata akhir zaman yang disinyalir oleh Beliau Yang Mulia Nabi Muhammad saw, yang menurut para ahli tafsir, tidak terlalu sukar untuk mengerti frasa ini. Kita benar-benar telah berada dalam akhir zaman karena Beliau adalah penutup Nubuwah, yang berarti Nabi dan Rasul Allah yang terakhir. Mandat Beliau adalah menyampaikan kabar langit kepada ummat akhir zaman, ipso facto menjadi penanda sempurnanya firman sebagai petunjuk (oleh karenanya pasti perinci dan menyeluruh) dan regulasi agung yang berlaku bagi segala kalangan makhluk di seluruh alam, dari virus-bakteri yang tak kasat mata, hingga melata raksasa yang menetap meski di galaksi dengan lebih dari seribu surya.
Itu pun dengan warning, “inii a’lamu maa laa ta’lamuun”, sesungguhnya Aku (Allah) Maha Mengetahui atas apa yang tidak kalian ketahui. Maksudnya, bahwa andaipun ada yang telah berhasil kita pahami—dalam prestasi sains, teknologi, dan kreasi seni yang mendominasi hari ini—maka indeks perolehan kepahaman kita itu jauh di bawah median amat sedikit dari yang belum atau bahkan tidak diketahui. Setidaknya, begitulah pandangan jamak yang diterima kebanyakan ummat Islam.

Dari Dehumanisasi kepada Rehumanisasi

Di antara kabar langit yang penting itu adalah datangnya masa “topo laku” untuk menyucikan kembali harkat sukma dan raga ke dalam apa kemanusiaan mengambil bentuknya. Ya, setengah bulan Ramadan telah meninggalkan kita. Hendaknya kian dalam pula kesucian (dalam makna yang substantif dan luas) merasuki kehidupan kita. Seperti puasa (siam) itu sendiri memberi implikasi asketik sekaligus universal. Dalam perspektif “poso” (topo ing roso), interminus menahan rasa, maka Ramadan sewajarnya memberikan kekuatan untuk menahan diri melakukan keburukan. Sebaliknya ia, adalah prime time yang lebih dari tepat untuk melakukan rehumanisasi manusia atau jika boleh memakai istilah re-ahsani taqwiim. Karena boleh jadi sebelas bulan sebelumnya, oleh karena kerakusannya (greedy atau tamak), telah membuat manusia jatuh ke lembah terendah (fii aspalasafiliin) dan bermutasi menjadi “hewan”, bahkan lebih buruk dari hewan (kal an’aam bal hum adhol) karena kehilangan derajat kemanusiaannya.
Dehumanisasi ini di antaranya digambarkan oleh Alquran dalam perbuatan mungkar vertikal (kufur dan syirik), yang pada akhirnya melakukan mungkar horizontal seperti, berdebat (jidal), merendahkan (menggunjing, mencaci, dan menghina), bermusuhan, merusak, berbunuhan, serta memicu kehancuran massif. Tanda awal dehumanisasi senantiasa diawali dengan kemaksiatan infirodi (personal), baru kemudian jahat secara komunal. Asbab inilah, universalitas implikasi Ramadan sebagai rumah padusan, bertali-sulam rapat dengan romantisme bulan juni, yang hadir bersamaan, yang kembali mengambil terma bulan Pancasila atau bulannya Bung Karno.
Menjalankan ibadah puasa wajib, tarawih, zakat, serta ibadah sunah yang lain dilakukan karena panggilan “iman”, tunduk percaya karena mengharap keridaan Allah, ini esensi Ketuhanan Yang Maha Esa. Penggal sepuluh hari pertama, Allah menyurahkan rahmat, membuat rasa welas asih (sebagai ekstraksi merasakan lapar dan dahaga) terhadap sesama tanpa pandang bulu kembali bersemi, ini dimensi kemanusiaan yang adil dan beradab. Egalitarianisme terutama sekali, terlihat dalam budaya buka atau makan sahur bersama, berjemaah di masjid atau surau yang melibatkan tua atau muda bahkan belia, miskin juga kaya, tak peduli penguasa atau rakyat jelata. Bahkan, yang islamofobia sekalipun telah mengetahui bahwa sejak awal dalam Islam, “sepatu raja” tak layak menginjak lantai masjid, kecuali ditanggalkan.
Kesatuan dan loyalitas, sebagaimana yang diharapkan oleh “Persatuan Indonesia”, dapat kita lihat ketika para ummat Islam memulai takbiratul ihram hingga salam dan salat berjemaah. Telah mafhum semua orang, kewajiban taat kepada komando imam (pemimpin) guna menjaga kesatuan gerak dalam salat. Telah dimengerti bagaimana aturan political powershift saat imam batal wudu atau disisi lain konsekuensi makmum (rakyat yang dipimpin) yang mendahului gerakan imam. Demikian juga jika kita hadir terlambat dibarisan saf atau menjadi masbuk, bagaimana cara menyempurnakannya, adalah gambaran dari loyalitas dan stabilitas.
Ingat pula anjuran Nabi saw untuk melembutkan bahu ketika saf telah tersusun, tidak hanya harus lurus dan rapat, tapi kasih kepada jiran. Maka sesungguhnya tak ada alasan bermusuhan dengan keras atau intoleran beradasarkan kebencian dalam Islam, Allah swt memperingatkan, “Janganlah kebencianmu terhadap segolongan orang membuatmu berlaku tidak adil”. Sebaliknya, wajah teduh nan lembutlah muslim itu; karena “jika masih ada lubang yang melebihi kecilnya jarum untuk berdamai, maka damaikanlah. Pun jika masih ada celah melebihi halusnya sehelai rambut untuk bermaafan, maka maafkanlah”.
Termasuk pula aspek permusyawaratan (wasawwirhum billati hiya ahsan atau terma yang lain), perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh (bukan sebagian kecil dari) rakyat, diharapkan terejawantahkan secara nyata (amalu bil arkaan) dalam kehidupan sehari-hari dengan mengekstraksi maksud Ramadan. Baik masing-masing pribadi, keluarga, hingga sebagai masyarakat, menuju derajat takwa yang sebenar-benarnya; merasa senantiasa dilihat, didengar, dan diketahui oleh Zat Yang Maha Teliti, yang awasnya melebihi triliunan derajat presisi CCTV, tanpa pernah lelah dan mengantuk. Tidak ada waktu lain setelah ini, manfaatkan momentumnya, karena alarm akhir zaman telah berdentang riuh di segala waktu dan penjuru. Sebelum berlalu bulan nan membahagiakan ini, sempurnakan romantisme juni dan Ramadan dengan menegaskan “saya umat Islam Indonesia, saya puasa, saya Pancasila”. Tabikpun nabik tabik, mahappun ngalimpura.

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv