PEKAN ini obor Api Asian Games 2018 hadir di Provinsi Lampung, tepatnya pada 8 Agustus 2018 mampir di Kota Bandar Lampung. Itu 10 hari sebelum upacara pembukaan pesta olahraga Asia tersebut, 18 Agustus di Jakarta, menjadi pertama kali Asian Games dilaksanakan di dua kota: Jakarta dan Palembang.

Asian Games (AG) secara nyata merupakan uji kemampuan bangsa, utamanya dalam hal penyelenggaraannya. Tidak ringan menjadi tuan rumah event skala Asia diikuti 45 negara dengan 40 cabang olahraga dan 15 ribu atlet itu.



Bukti tidak ringan, Vietnam yang semula terpilih sebagai tuan rumah AG ke-18 itu, menyerah tidak mampu, mengundurkan diri. Oleh Komite Olimpiade Asia, pengelola AG, diserahkan ke Indonesia.

Indonesia menyambut kepercayaan itu dengan baik bahkan yang semestinya berlangsung 2019, karena tahun itu ada pesta demokrasi pilpres dan pileg, AG dipercepat dari jadwal semula menjadi 2018. Tidak kepalang tanggung, AG 2018 Jakarta-Palembang oleh pemerintah diupayakan menjadi yang terbaik. Rehabilitasi Stadion Utama Gelora Bung Karno tempat upacara pembukaan AG, misalnya, menelan biaya Rp2,8 triliun.

Seluruh venue (tempat pertandingan) diperbaiki menjadi lebih baik dari aslinya semula. Stadion Jakabaring, Palembang, misalnya, meski baru dibangun saat PON dan SEA Games beberapa tahun lalu, direhab kembali fasilitasnya dengan biaya Rp250 miliar.

Lapangan ketangkasan berkuda (equestrian park) dibangun di lahan seluas 35 hektare di Pulomas (di tengah Kota Jakarta) dengan biaya fisik bangunan Rp417 miliar, dilengkapi apartemen dan stable bisa menampung 120 ekor kuda. Ini venue equestrian terbaik di Asia Tenggara.

Kota Palembang dan sekitarnya juga dapat berkah dari penyelenggaraan AG 2018, antara lain LRT—kereta api cepat modern—dari Jakabaring ke pusat kota. Jalan tol (JTTS) Bakauheni—Palembang juga dikebut agar lebih panjang lagi yang bisa dilintasi.

Semua itu baru unjuk kemampuan dalam penyiapan fasilitas penyelenggaraan. Ujian terberat baru nanti setelah pelaksanaan, dalam memberikan pelayanan terbaik terhadap para peserta dan menjadi tuan rumah yang baik dalam penyelenggaraan semua pertandingan. Kalau semua itu berjalan dengan baik, tercapailah sukses penyelenggaraan.

Namun, itu saja tidak cukup. Sukses prestasi juga harus diwujudkan dengan dua dimensinya. Pertama, sukses prestasi AG menghasilkan banyak rekor baru. Kedua, sukses prestasi atlet tuan rumah, tidak mempermalukan bangsa. ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR