BEBERAPA minggu setelah menikah pertengahan 2017, saya mengalami nyeri pada ulu hati, dada sesak, sulit bernapas, dan keringat dingin. Saya pikir saya akan mati saat itu juga. Sempat terlintas dalam benak, saya terkena serangan jantung. "Waduh kacau, baru nikah belum punya anak, sudah seperti cerita di sinetron atau berita viral pengantin baru tewas pasca-menikah," kata saya kala itu.

Kebetulan istri saat itu masih bekerja di salah satu rumah sakit swasta. Saya menelepon dia menceritakan sakit yang saya alami, lalu diminta datang ke UGD RS tersebut saat itu juga.



Sempat dicek menggunakan alat EKG, kondisi jantung saya baik-baik saja, normal, dan tidak mengalami gangguan. Dokter spesialis penyakit dalam yang memeriksa saya memvonis saya terkena asam lambung atau bahasa kerennya gastroesophageal reflux disease (GERD). Kondisi penyakit ini ditandai dengan nyeri pada ulu hati atau sensasi terbakar di dada akibat naiknya asam lambung menuju saluran kerongkongan.

Penyebab asam lambung biasanya terkait dengan berbagai faktor mulai dari faktor keturunan, konsumsi obat-obat tertentu, kelebihan berat badan, hiatus hernia, keadaan hamil, gastroparesis, atau konsumsi makanan yang mengandung banyak lemak dan stres.

Namun, untuk kasus saya, dokter menyatakan saya terkena penyakit ini karena gaya hidup yang tidak sehat. Kebiasaan ngopi pagi dan siang tanpa makan terlebih dulu disertai mengisap rokok terakumulasi menjadi asam lambung ini.

Kafeina di dalam kopi dipercaya dapat mempercepat proses terbentuknya asam lambung. Hal ini membuat produksi gas dalam lambung berlebih sehingga sering mengeluhkan sensasi kembung di perut.

Orang yang sering meminum kopi berisiko 3,57 kali menderita gastritis dibandingkan dengan yang tidak sering meminum kopi. Kopi diketahui merangsang lambung untuk memproduksi asam lambung sehingga menciptakan lingkungan yang lebih asam dan dapat mengiritasi mukosa lambung.

Sejak divonis terkena GERD ini, saya sudah jarang meminum kopi. Kalaupun terpaksa minum kopi untuk melawan rasa kantuk, saya harus memastikan sudah makan terlebih dulu. Sejak divonis dokter, saya ke mana-mana selalu membekali diri dengan berbagai obat, mulai dari Sulcrafat sampai Omeprazole.

Tapi, ternyata saya tidak sendiri, di kantor juga ada rekan-rekan yang selalu siap membawa obat-obatan sendiri ketika dirasa perut kembung dan mulai sendawa. Sesama penderita penyakit yang sama, kami kerap saling mengingatkan ataupun bertukar pikiran dan obat-obatan, hahaha.

Penting pula untuk diingat, agar terhindar dari asam lambung ini juga harus didukung dengan gaya hidup sehat, yakni dengan tidak merokok dan menghindari stres. Dua hal yang terakhir ini sulit dihindari. Kalau masih stres saja, siap-siap asam lambung naik. Semoga badai asam lambung ini cepat berlalu.

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR